Konten Berita

Mengenal Ummu Ummaroh, Perempuan Penyala di Jaman Rasulullah

SRStory, Depok (1/4)- Sejak dulu hingga sekarang, peran perempuan tidak bisa dipisahkan dari perkembangan dan kelahiran sejarah peradaban umat manusia. Tercatat atau tidak, realita sejarah dunia Islam tidak akan melupakan kiprah perempuan-perempuan pilihan Allah yang turut berdakwah dan mengabdikan diri untuk umat, salah satu nama muslimah berpengaruh yang memiliki andil penting dalam dakwah Islam di era Rasulullah adalah Ummu Ummaroh. Beberapa dari kita mungkin ada yang baru mendengar nama Ummu Ummaroh, namun kisah perjuangannya Ummu Ummaroh di medan perang akan menggeser anggapan sumbang tentang “Islam yang mengekang perempuan".

Ummu Ummaroh atau Nasibah binti Ka'ab al-Anshariyah  adalah sosok muslimah yang ikut berjihad di jalan Allah. Ia berasal dari Bani Mazim An-Najar, merupakan salah satu dari perempuan Madinah yang bersegera masuk Islam. Kiprah dan keberaniannya dimedan perang terbukti dengan aksi heroiknya yang ikut turun membela pasukan Islam dalam Perang Uhud yang terjadi di Bukit Uhud, 7 Syawal 3 H/ 22 Maret 625 M. Sekitar 700 pasukan tentara Muslim yang dipimpin Rasulullah SAW bertempur melawan 3.000 tentara kafir di bawah komando Abu Sufyan.

Pasukan tentara lawan berhasil memukul balik serangan tentara muslim. Tentara lawan pun berniat untuk membunuh Rasulullah. Melihat pasukan Muslim yang ketar-ketir, Ummu Ummaroh tak bisa tinggal diam, ia pun memilih terjun ke medan perang, dengan pedangnya ia menghadang para tentara lawan yang berniat membunuh Rasulullah Muhammad SAW.

''Siang itu, sambil membawa sekendi air, saya keluar menuju Uhud untuk menyaksikan pertempuran kaum Muslimin. Awalnya, tentara Muslim memenangkan pertempuran. Namun, ketika pasukan Islam mulai kalah, saya langsung terjun ke medan laga. Saya halau segala serangan yang datang ke arah Rasulullah dengan pedang saya,'' kisah Ummu Umarah seperti dituturkan Ibnu Sa'ad dalam Thabaqat.

Awalnya, Ummu Umarah bertugas sebagai perawat tentara yang terluka serta menyediakan minuman. Namun melihat kondisi para prajurit yang kocar-kacir membuat Ummu Umarah bangkit dan terjun medan laga, ikut berjuang melawan tentara lawan, semangat dan keberaniannya berkobar menyala-nyala, bersama pedangnya ia ingin bersuara bahwa perjuangan dakwah adalah milik dan tanggung jawab semua ummat manusia.

Bukit Uhud menjadi saksi keberanian seorang Ummu Ummaroh, tak gentar ia menghalau serangan demi serangan yang dilontarkan Ibnu Qumaiah pada Rasulullah dengan pedangnya. Serangan Ibnu Qumaiah pun mengenai pundak Ummu Ummaroh hingga terluka dan berdarah, namun luka demi luka yang ia alami tak berhasil meruntuhkan tekadnya untuk tetap berjuang di Perang Uhud dan melindungi Rasulullah dari serangan lawan. Kala itu banyak para tentara muslim yang berlari meninggalkan Rasulullah, Ummu Ummaroh adalah salah satu yang tetap bertahan untuk melindungi dam membersamai Rasulullah.

“Aku melihat banyak di antara kaum Muslimin yang lari kocar-kacir dan menginggalkan Rasulullah. Hingga tinggal tersissa beberapa orang yang melindungi beliau termasuk aku, kedua anakku, sedangkan suamiku berada di depan beliau untuk melindunginya. Dan Rasulullah melihat aku tidak bersenjata,'' ungkap Ummu Umarah.

Rasulullah SAW pun mendoakan Ummu Umarah. Ketika sang mujahidah terluka, Rasulullah SAW berkata kepada putra Ummu Umarah, ''Ibumu! Ibumu! Balutlah lukanya. Ya Allah, jadikanlah mereka teman-temanku di surga.'' Keberanian Ummu Ummaroh membuat Rasulullah SAW bangga. ''Siapakah yang sanggup melakukan seperti yang engkau lakukan, wahai Ummu Umarah?” ujar Rasulullah memuji.

Kisah heroik perjuangan Ummu Ummaroh tidak berhenti di Perang Uhud, setelah wafatnya Rasulullah, Ummu Ummaroh kembali ke medan perang, berjuang bersama pasukan Abu Bakar Ash-Shidiq untuk memerangi mereka yang murtad dari Islam.

Menyerap Semangat “Kerelawanan” Dalam Kiprah Ummu Ummaroh

Kata Relawan mungkin tidak mampu membahasakan dan mendefiniskan betapa heroiknya aksi seorang Ummu Ummaroh di medan perang. Setelah membaca sekilas perjuangan Ummaroh yang berperang di medan laga, imajinasi kita seketika terbang ke beberapa scene film action atau film heroes yang menjadikan perempuan sekelas Wonder Women sebagai pahlawan. Tapi, kisah Ummu Ummaroh bukan kisah fantasi, ini kisahnya adalah sebuah sejarah tentang kiprah perempuan di panggung sejarah.

Perang Uhud adalah saksi tentang Ummu Ummaroh, seorang perempuan penyala yang menjadi salah satu “cahaya” dalam perjuangan Islam di medan perang. Bicara soal aksi Ummu Ummaroh, tentu sangat relevan jika kita tarik kedalam kacamata aksi kerelawanan, saat itu di jaman nabi memang belum ada lembaga atau organisasi kerelewanan seperti sekarang, tapi sesungguhnya semangat untuk melakukan kebermanfaatan berlandaskan skill dan kemampuan tentu sudah mendarah-daging dijiwa para sahabat setia Rasul.

Saat melakukan aksinya di medan laga, selain dilatarbelakangi oleh dorongan akan kecintaan dan loyalitasnya pada Rasulullah dan Islam, Ummu Ummaroh juga dibekali kemampuan, Ummu Ummaroh tidak hanya bermodalkan “semangat”. Dalam perjuangannya membersamai pasukan Rasulullah ke Bukit Uhud, ia yang datang sebagai perawat saat itu telah memiliki kapasitas yang telah dilatih dan mental yang telah diasah. Hal itu adalah modal berharga yang membuat Ummu Ummaroh mampu mengendalikan diri dan mengambil keputusan secara bijak dan terarah.

Belajar memaknai semangat dan perjuangan seorang Ummu Ummaroh bukan berarti membuat kita harus tiba-tiba ikut berperang dan memegang senjata, dewasa ini, bukan jamannya lagi berperang dengan pedang, sebagai perempuan kita tentu memiliki latarbelakang pendidikan dan passion yang beragam, maka kita bisa memulai kontribusi dan dedikasi sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Kita yang menggeluti dunia pendidikan tentu harus mempersiapkan amunisi terbaik untuk beraksi didalamnya, kita yang berapi-api mewujudkan ekonomi kerakyatan yang adil dan sejahtera tentu juga harus merintis kiprah membangun ruang pemberdayaan yang nyata, kita yang berkeinginan untuk menyelamatkan bumi dan lingkungan juga harus memulai penyadaran pola hidup sehat dan ramah lingkungan.

Berbagai aksi kerelawanan di dunia sosial kemanusiaan, pemberdayaan,pendidikan, dan advokasi kemasyarakatan adalah medan perang yang harus kita hadapi  dan kita perjuangkan saat ini. Jadi, sudahkah kita mempersiapkan senjata terbaik untuk berjuang dimedan laga masing-masing? Sudah siapkah kita merintis kiprah sebagai perempuan penyala?

Referensi: Republika.co.id

Sumber Gambar: Internet (Pendidikan60detik)

  • Bagikan Artikel