Konten Berita

Pahami Motivasi Kerelawanan Kita

Membantu orang lain mungkin sudah jadi kebiasaan kita sehari-hari. Tapi, bantuan kita bakal lebih besar manfaatnya dan fokus kalau ikutan jadi relawan. Seru, lho.

Selama ini kita sering membantu orang lain, kan? Tapi, pernah enggak terpikirkan kalau sebenarnya, selain senang membantu orang lain, kita punya kepedulian pada hal-hal tertentu yang khusus? Misalnya nih, kita selalu sebal melihat sampah yang menumpuk dan selalu geregetan mendengar berita kebakaran hutan. Atau, kita sedih tiap kali melihat anak-anak jalanan yang masih kecil di perempatan. Atau, kita peduli banget pada hak-hak cewek.

Semua kepedulian yang spesifik tadi sebenarnya bisa disalurkan untuk menolong orang lain. Caranya? Coba saja bergabung dengan sebuah, dua buah, tiga buah (tergantung tenaga, deh) organisasi yang concern pada masalah yang sering “mengganggu” kita itu. Kita bisa menjadi relawan dalam sebuah organisasi, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Kalau ingin jadi relawan pada suatu organisasi, kita perlu memiliki hal-hal sebagai berikut:
• Kemauan, minat yang kuat dalam bidang kerja relawan organisasi.
• Kemampuan, memiliki pengetahuan dan keterampilan atau kecakapan tertentu yang dibutuhkan oleh organisasi.
• Kebutuhan akan tantangan, mempunyai dan menyukai tantangan-tantangan baru dan memberikan jawabannya.
• Kesempatan, mempunyai waktu untuk memberi kontribusi pada organisasi sesuai kebutuhan organisasi.

Jenis dan peran relawan

Pada organisasi yang sederhana, latar belakang relawan yang dibutuhkan tidak terlalu macam-macam. Bisa anak sekolah, boleh sarjana. Terbuka untuk yang punya keahlian khusus maupun tidak. Sebaliknya, organisasi besar dan kompleks biasanya semakin banyak membutuhkan relawan dari berbagai latar belakang.

Secara umum, tugas relawan dalam organisasi dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu: mengambil keputusan atau kebijakan, mencari dana untuk membiayai kegiatan organisasi, membantu terlaksananya kegiatan untuk pencapaian tujuan organisasi.
Dalam sebuah organisasi kita bisa saja menjadi relawan sesuai dengan peran yang kita pilih, misalnya:

• Relawan Kebijakan, yaitu relawan yang menjadi pengurus organisasi, merumuskan kebijakan-kebijakan umum organisasi. Untuk ini biasanya dipilih dari dan oleh anggota organisasi.
• Relawan Lapangan, yaitu yang langsung melaksanakan kegiatan-kegiatan organisasi di lapangan tanpa mengharapkan imbalan material.
• Relawan Sesaat, yaitu relawan yang hanya memberikan kontribusi pada saat-saat tertentu saja, tidak mengikatkan dirinya pada organisasi. Biasanya memberikan kontribusi sebagai narasumber dalam kegiatan tertentu saja.
• Relawan Ahli, yaitu memberikan keahlian pada organisasi, baik melalui pemberian informasi maupun konsultasi. Memberikan masukan dalam arah kebijakan program dan organisasi sebagai bahan pertimbangan pengurus menetapkan kebijakan.

Motivasi relawan

Kalau menjadi relawan, tentu kita punya motivasi yang berkaitan dengan “mengapa” kita bersedia menjadi relawan suatu organisasi. Umumnya motivasi menjadi relawan dapat digolongkan dalam:

• Keagamaan. Orang melakukan sesuatu bagi sesamanya sebagai amal saleh atau perbuatan baik, dengan harapan mendapatkan balasan dari Tuhan.
• Rasa kesetiakawanan yang tertanam dalam hati sanubari. Orang berbuat sesuatu karena dorongan hati untuk berbuat sesuatu bagi kemanusiaan.
• Kebutuhan sosial. Orang aktif di organisasi, melakukan sesuatu karena dorongan untuk menjalin hubungan sesama manusia, sebab manusia merupakan makhluk sosial.
• Aktualisasi diri. Orang melakukan sesuatu karena dia ingin mengekspresikan dirinya, ingin berprestasi, berbuat terbaik.

Sebuah organisasi biasanya menempatkan kita sebagai relawan pada posisi tertentu, berdasarkan motivasi diri kita. Ada tiga jenis orang berdasarkan motivasinya:

• Orientasi pada hasil karya (need for achievement). Ciri-ciri: suka pada pemecahan suatu masalah, ingin mencapai hasil terbaik, dan senang berjuang. Tipe ini cocok diberi tugas, antara lain, penggalian sumber dana (fundraising), kampanye atau promosi, dan mengetuai suatu panitia yang mempunyai tugas khusus.
• Orientasi pada kekuasaan (need for power). Ciri-ciri: menaruh perhatian pada kedudukan dan reputasi, butuh mempengaruhi, senang mengubah pikiran orang lain, dan senang memberi nasihat (walaupun tanpa diminta). Jenis ini pas untuk pekerjaan penggalian sumber dana (fundraising), ceramah di muka umum atau public speaking, dan kepanitiaan dalam bidang yang berkaitan dengan perhatian publik.
• Orientasi pada afiliasi (need for affiliation). Ciri-ciri: senang berhubungan dengan orang lain, ingin disukai, serta senang menghibur dan menolong orang lain. Tugas yang pas untuk tipe ini: pengelolaan keanggotaan, komite pembinaan relawan, dan lain-lain.

Ada juga jenis lain atas penampilan orang-orang yang memiliki kepedulian sosial, yaitu: impulsive helper, mechanical conformist, rational organizer, solid plodder, the rebel, dan solitary.

1. Impulsive Helper
Orang yang mendasarkan kepeduliannya pada perasaan pribadi, tampil sebagai orang yang mudah trenyuh pada penderitaan orang lain, dan secara impulsif ingin menolong melalui kegiatan-kegiatan karitatif atau derma. Relawan yang berpenampilan seperti ini lebih banyak dilibatkan pada kegiatan-kegiatan sosial yang bersifat karitatif.

2. Mechanical Conformist
Orang yang mempunyai kepedulian sosial cukup, tetapi terjebak dalam tata kerja yang birokratik. Mereka akan menjadi birokrat yang merasa memperhatikan rakyat, tetapi hanya di balik meja dan cenderung menolak perubahan. Relawan yang berpenampilan seperti ini lebih banyak dilibatkan pada kegiatan yang tidak menuntut inovasi.

3. Rational Organizer
Orang yang mengandalkan pada pikiran rasional yang didasari data ilmiah. Kelemahannya, yaitu pada ketidakmampuannya untuk bereaksi secara tepat ketika teorinya berbenturan dengan kenyataan di lapangan. Relawan yang berpenampilan seperti ini lebih banyak dilibatkan pada kegiatan yang berkaitan dengan perencanaan.

4. Solid Plodder
Orang yang mampu menyeimbangkan antara emosi, ketrenyuhan, pikiran rasional, dan kesadaran akan keterbatasan kemampuannya. Relawan yang berpenampilan seperti ini lebih banyak dilibatkan pada kegiatan yang berkaitan dengan perencanaan dan kegiatan operasional lapangan.

5. The Rebel
Orang yang disebut “pemberontak”, mempunyai kepedulian yang tulus, tetapi ingin menyelesaikan masalah dengan radikal. Kelompok ini cenderung membentuk LSM (organisasi) “asal beda”, misalnya jika pemerintah bilang “A”, mereka harus bilang “B”. Relawan yang berpenampilan seperti ini lebih banyak dilibatkan pada kegiatan yang berkaitan dengan advokasi (membela orang lain melalui jalur hukum).

6. Solitary
Orang yang bekerja sendirian, tidak melalui kelompok atau organisasi. Relawan yang berpenampilan seperti ini lebih banyak dilibatkan pada kegiatan yang tidak menuntut “kerja sama langsung”, jenis pekerjaan yang dapat dikerjakan dengan ketekunan sendiri, misalnya dalam desain grafis.

Chatarina Wahyurini dan Yahya Ma’shum (Dari Berbagai Sumber)

Sumber: Kompas, Jumat, 12 Desember 2003

  • Bagikan Artikel