Konten Berita

Jono Oge yang Abadi dalam Memori

SRUpdate, SulTeng Bangkit, Sulawesi Tengah (13/10) - "Sedih rasanya melihat Jono Oge yang sekarang.. hancur tak berbentuk. Bagiku, Jono Oge sangat berarti, tempatku dilahirkan dan dibesarkan, kami hidup berdampingan dan harmonis meski berbeda-beda agama..ada keluarga,sahabat,teman,..semuanya hidup damai dan harmoni satu sama lain.." bagi Tasya, Jono Oge bukan sekedar nama desa yang tenggelam karena likuifaksi, tapi ruang kehidupan yang memberi banyak arti. 

Sejauh mata memandang, hamparan lumpur terhampar luas dan lapang. Ada beberapa gundukan runtuhan rumah yang runtuh digoncang gempa, sementara di sisi lain, beberapa rumah ditenggelamkan lumpur dan ditinggalkan penghuninya.

Sebelum 28 September 2018, Hamparan lumpur itu adalah sebuah desa bernama Jono Oge. Ada kehidupan didalamnya, ribuan masyarakat hidup berdampingan di desa yang terletak di Kecamatan Biromari, Kabupaten Sigi.

"Jono Oge itu artinya Padang rumput atau Padang ilalang. Dulu sebelum padat penduduk dan banyak rumah yang dibangun, Jono Oge dipenuhi oleh Padang rumput yang luas..." Abdul masih ingat betul bagaimana Jono Oge saat itu, tahun 1979 ia dan keluarganya merantau ke tanah Sulawesi dan merintis kehidupan di Jono Oge.

Peristiwa gempa dan tsunami serta fenomena likuifaksi tak hanya menghancurkan rumah-rumah penduduk di Jono Oge, lumpur juga telah menggulung,menggeser bahkan menenggelamkan Desa Jono Oge.

"Dulu disini ada bengkel, ada gereja juga..pertokoan padat berjejer disini semua, tapi semua bergeser sampe Boa, semuanya rata tinggal lumpur tersisa" Ungkap Darma salah satu warga saat berbincang bersama Sekolah Relawan.

Tim Rescue Sekolah Relawan berkesempatan datang langsung ke Jono Oge untuk melakukan penyisiran korban sekaligus membantu proses evakuasi korban yang masih terjebak. Diperkirakan ada ratusan orang yang masih terjebak dan terkubur di bawah lumpur. 

"Dibawah sana kita tidak bisa hitung ada berapa orang...banyak yang belum ketemu...mungkin ratusan.." Ungkap Pak Darma.

Sebelumnya, pihak kepolisian juga sudah datang ke Jono Oge dengan membawa anjing pelacak, beberapa titik telah ditancapkan kayu sebagai penanda keberadaan mayat/jasad korban. Namun, kedalaman lumpur diperkirakan lebih dari 3 meter sehingga menyulitkan tim untuk melakukan evakuasi korban.

"Kondisinya ini sulit, kita tidak bisa menggali secara manual, butuh alat untuk bisa menggali kedalaman lumpurnya.." Ungkap Eko Subiyantoro pada warga saat berbincang di Jono Oge. 

Sebelumnya, warga Jono Oge melakukan evakuasi dan pencarian korban tanpa bantuan tim rescue, sulitnya medan memang menyebabkan proses evakuasi belum bisa melakukan pencarian secara optimal. 

Tim melakukan penyisiran dan berjalan beberapa kilo untuk memantau kondisi Jono Oge pasca likuifaksi dan gempa, beberapa sawah yang tadinya tidak ada di desa pun bergeser hingga ke Jono Oge. Kondisi lumpur beberapa masih sangat lembek dan basah, beberapa lagi sudah mengeras dan mengering namun rapuh. 

Tak Ada yang Abadi, Jono Oge Hidup dalam Memori

Hingga kini, Jono Oge  masih ramai di kunjungi warga, baik itu warga dari desa lain, maupun warga Jono Oge yang selamat dari bencana.

"Aku harus memberanikan diri melihat Jono Oge. Apakah yang abadi di dunia ini rumah dan harta semuanya bisa hanyut dan hilang seketika..." Ungkap Tasya salah seorang warga Jono Oge yang selamat dari bencana. 

Tasya dan ayahnya memberanikan diri melihat kembali puing-puing rumah dan sisa reruntuhan desanya, Jono Oge. Berbeda drastis, itulah yang mereka rasakan, Jono Oge tak seperti dulu lagi. Bencana telah merubah semua, merubah kehidupan manusianya, merubah kisahnya. 

Tasya memang tak menyaksikan langsung bagaimana ganasnya lumpur dan gempa memporak-porandakan desanya, tapi hatinya begitu hancur saat melihat kondisi Jono Oge pasca gempa. 

Ibundanya kini belum bisa diketemukan, Tasya dan keluarga hanya berharap yang terbaik, tak ada yang abadi di dunia ini, Tasya mencoba kuat, ia paham betul bahwa dibalik bencana ini ada hikmah dan makna yang luar biasa. 

Selain Tasya, Bambang juga merasakan hal yang sama. Ia dan keluarganya melihat langsung rumah mereka ditenggelamkan lumpur pasca gempa terjadi.

"Saat gempa..rumah saya tidak hancur...tapi ia langsung tenggelam dan amblas oleh lumpur.." kisahnya.

Bambang dan keluarganya sempat terpisah, ia terpelanting saat gempa bergoncang. Bahkan Supriatin bersama keluarga dan tetangga nekad berjalan dari Jono Oge menuju Pombawe demi menyelamatkan diri. 

"Tak ada lelah terasa, kami tak bawa apapun kecuali pakaian yang tertempel di badan. Kehilangan harta tak apa, yang penting masih bisa berkumpul dengan keluarga" Ungkapnya di Pos Penyintas Pombawe. 

Warga Jono Oge yang selamat mengungsi secara tersebar ke beberapa titik, mereka tak hanya menyimpan memori mengerikan saat bencana melanda, tapi juga menyimpan dan memelihara segala memori baik dan kenangan indah saat Jono Oge masih ada sebagai tempat berlindung bersama keluarga.

Jono Oge memang telah ditenggelamkan ganasnya lumpur likuifaksi, namun segala kenangan manusia yang pernah hidup didalamnya tak akan hanyut atau musnah. Orang-orang yang selamat dari bencana di Jono Oge akan terus mengingat Jono Oge sebagai ruang dan rumah yang pernah mereka tinggali untuk berjuang hidup bersama keluarga.


  • Bagikan Artikel