Konten Berita

Kado Cinta Untuk Veteran

SRUpdate, Depok (7/19)- “NKRI ini tidak akan bisa terwujud tanpa perjuangan para veteran!”Suara kakek Suratman lantang terdengar diteras rumahnya. Matanya berbinar memancarkan rasa perjuangan mendalam yang masih tertinggal. Senin siang 17 Juli 2018, Roni salah seorang relawan berkesempatan menimba ilmu dan menggali makna perjuangan seorang veteran, Wahyudi Suratman namanya.

Pria kelahiran Jogja 8 April 1933 ini duduk tegap di atas kursi kayu di teras rumahnya, ia menggunakan topi veteran dan seragam batik kebanggaannya. Orbolan dan perbincangan seru lahir ditengah perjumpaan singkat yang bermakna itu. Sekolah Relawan tak mau membiarkan pertemuan dengan sang veteran hanya menjadi kisah ekslusif yang semata, kami percaya bahwa perjumpaan relawan dan veteran tersebut harus ditebarkan pada masyarakat luas.

Berbagai pertanyaan terlontar dari mulut Roni pada siang itu, Kakek Suratman pun mampu menceritakan kisah perjuangannya yang syarat makna dan berharga.  Selain pernah ikut membela tanah air, kakek Suratman juga adalah seorang guru.

“Saya ikut berjuang sebagai sukarelawan pada tahun 1964. Saat itu saya merupakan seorang guru di SMPN 1 Cikini. Terjadi perselisihan antara Malaysia dan Indonesia,  Soekarno membuka  seleksi pembukaan guru sukarelawan untuk perjuangan Dwikora. Saya pun tergerak untuk ikut berjuang, saya ditempatkan di Kepulauan Riau selama 2 tahun” ungkapnya

Ia mengaku bahwa jiwanya terpanggil untuk ikut membela Indonesia, pahitnya hidup dibawah penjajahan membuatnya tak rgau untuk ikut berjuang.

“Dulu saya ikut berjuang bersama tentara pelajar saat Belanda melakukan agresi di Yogyakarat dan sekitarnya. Kami menjaga pos-pos wilayah, meskipun akhirnya belanda berhasil mencium keberadaan kami. Komandan kami ditembak oleh Belanda, saat itu ketersediaan senjata dan bala pasukan memang tidak seimbang” Kisahnya

Tak hanya merasakan perjuangan menjadi tentara pelajar dikala muda, saat Jepang mengambil alih kekuasaan pun Kakek Suratman merasakan dan melihat langsung kekejamannya dalam sistem kerja paksa Romusha, banyak orang kelaparan dan dipaksa kerja hingga mati meregang nyawa.

“Dulu, di Sudimoro itu daerah lumbung padi, tapi kita semua kelaparan tak bisa makan nasi, kita hanya bisa makan ubi dan jagung. Kita disuruh menanam pohon jarak sebagai minyak senjata mereka” Suaranya bergetar mengisahkan cerita masa lampau, penjajahan memang telah usai namun segala kenangannya masih terasa hingga kini, ada kisah sejarah yang terdapat dalam setiap guratan keriput di wajahnya.

Tak hanya menjadi seorang tentara pelajar,selama 2 tahun kakek Suratman berjuang menjaga perbatasan di Kepulauan Riau, ia menjadi koordinator guru sukarelawan yang berjaga diperbatasan, ada 25 orang prajurit guru yang berada dibawah komandonya. Salah satu pengalaman paling berkesan yang pernah ia alami adalah saat melakukan patroli air di perairan Kepulauan Riau. Malam itu, ia yang menaiki kapal bea cukai bertemu dengan pasukan tentara Inggris yang menaiki Kapal perangnya. Tak terjadi baku tembak antara kedua kapal, namun menurut Kakek Suratman kesiapan senjata pasukan Indonesia yang berada diatas kapal bea cukai sudah cukup mumpuni saat itu, meskipun tetap masih belum menyamai kecanggihan senjata tentara Inggris saat itu.

“Malam itu kita kaget karena bertemu kapal Vregret Inggris. Kita mematikan lampu kapal, mereka juga melakukan hal sama. Saat itu kita memang punya senjata, tapi tidak seimbang dengan senjata tentara Inggris. Mereka punya meriam tembakan, jika ditembakan ke kita sudah pasti kita hancur” Kisahnya

Entah seperti apa suasana saat itu, pastilah sangat mencekam dan mendebarkan, gelapnya malam dan dinginnya angin laut menambah tebalnya ancaman bagi pasukan, tapi keselamataman masih bersama mereka saat itu.

Tak hanya mengisahkan cerita perjuangannya, Kakek Suratman juga menyuarakan aspirasinya bagi masyarakat luas dan pemerintah, katanya banyak teman-teman veteran yang sudah berjuang membela bangsa dan memperjuangkan kemerdekaan tapi lalai dari perhatian negara karena tak memiliki data dan berkas bukti.

“Banyak kawan veteran kita yang tidak terurus, karena mereka tidak punya data dan berkas bukti perjuangan dulu saat jadi pejuang. Padahal mati-matian membela negara tanpa pamrih, tanpa balas jasa” Ungkap Kakek Suratman berkaca-kaca.

Kakek Suratman berharap agar masyarakat lebih membuka mata dan menghargai jasa para veteran, sekarang ini para veteran sudah tua dan renta, hal inilah yang juga mendasari sekolah Relawan untuk memberikan apresiasi dan penghargaan sederhana terhadap jasa-jasa mereka melalui program Ketuk Berkah Spesial Kemerdekaan: Kado Cinta Untuk Veteran

Ketika ditanya soal makna perjuangan baginya, kakek Suratman memberikan jawaban sederhana yang sangat bermakna,

“Perjuangan adalah sebuah pengorbanan, bukti cinta untuk mengabdikan diri bagi bangsa dan negara tanpa berharap pamrih dan balasan jasa” Ungkapnya.

Terakhir, tak lupa Kakek Suratman memberikan pesan bagi para pemuda yang bergerak di dunia kerelawanan,

“Bagi para pemuda yang bergerak di dunia kerelawanan, jangan ragu-ragu untuk menebar manfaat bagi masyarakat! Berjuanglan sesuai dengan kemampuan kalian. Jadilah pejuang di era sekarang, jika dulu kami berjuang dengan senjata, kini senjata kalian adalah ilmu, jika dulu kami menaklukan penjajah, maka sekarang taklukanlah ketidakadilan , jadilah pemimpin yang amanah…”

Bisa bertemu dan mengobrol langsung dengan sang veteran tentu merupakan pengalaman berharga bagi Roni, selain mendapatkan kisah yang menarik soal perjuangan di jaman penjajahan, ia juga mendapatkan banyak nilai dan makna hidup yang berharga soal sebuah pengorbanan.


  • Bagikan Artikel