Konten Berita

Kematian dan Makna Rambut Bagi Perempuan Asmat

SRUpdate, Tatar Nusantara, Asmat (7/10)- “Rambut adalah mahkota wanita” Narasi itulah yang selama ini berkembang di masyarakat, perempuan cantik digambarkan sebagai mereka yang memiliki rambut panjang, hitam dan lurus. Narasi yang seolah memonopoli definisi cantik tersebut seakan mengingkari  harmoni keberagaman hidup manusia yang kaya dengan perbedaan dan keunikan.

Bagi perempuan Asmat, rambut bukanlah mahkota, mereka tidak membiarkan iklan dan narasi pasar mendikte gaya dan penampilan mereka. Perempuan Papua memiliki definisi cantik tersendiri, bahwasanya cantik bukanlah soal tampilan visual semata, melainkan juga soal daya juang dalam kehidupan mereka.

Tika Ariesta, Relawan Tatar Nusantara yang sudah bermukim selama 6 bulan di Asmat pun menemukan perpepektif baru tentang sebuah nilai kecantikan dari rambut para perempuan Asmat.  Rupanya ada cerita dan nilai rasa yang mendalam dibalik rambut mama Asmat. Beberapa kali perempuan asal minang ini berbincang bersama perempuan Asmat, rasa penasaran membuatnya bertanya pada Mama Damares.

“Mama, Rambut mama kenapa pendek? Tidak sepanjang rambut mama Tabitha?” Tanya Tika pada mama Damares

“Mama su kasih habis dua kali toh” jawab Mama Damares

Tika berkisah bahwa tak banyak perempuan Asmat yang memiliki rambut panjang. Paling panjang hanya sebahu.

“Kebanyakan perempuan Asmat mempunyai rambut pendek. Bagi mereka , rambut bukanlah mahkota seperti iklan-iklan produk rambut di televisi. Bagi mereka, rambut lebih dari sekedar mahkota. Ada alasan tersendiri  bagi para mama” Ungkap Tika pada Sekolah Relawan.

Kuwakan adalah salah satu alasan mengapa banyak perempuan Asmat yang berambut pendek. Tika mengatakan bahwa Kuwakan adalah cara mengungkapkan kesedian bagi masyarakat Asmat di Kampung Yaosakor dan Sekor, Distrik Siret. Baik laki-laki maupun perempuan dewasa, jika ada anggota keluarga yang meninggal dunia, maka keluarga yang ditinggalkan dan yang menanggung sedih akan mencukur rambut mereka sendiri sampai botak, kisah Tika.

“Di awal penempatan di Asmat, saya bertemu dengan mama Anita yang mempunyai kebun sayur. Suatu hari, dia datang dengan menutup kepala menggunakan celana pendek cucunya. Kepalanya botak.  Mama Anita sudah kehilangan anggota keluarganya. Jadi dia pun mencukur habis rambut pendeknya sendir” Kisah Tika

Mama Damares, mama piara (mama angkat) Tika di Asmat sudah memotong rambutnya dua kali sampai habis. Sudah dua kali Mama Damares berduka, anak kembarnya meninggal dalam waktu yang berdekatan akibat sakit dan diigigit ular.

Selain Mama Damares, Nenek Siska juga ikut berduka karena kematian cucunya,ia  memotong  rambutnya sebagai tanda duka dan kesedihan. Bulan Juni lalu keduanya menangis dirumah mengenang kematian anak dan cucunya. Hal yang selalu terjadi setiap tahunnya.

“Beberapa perempuan Asmat memang suka memiliki rambut panjang, Namun ternyata, rambut pendek  bukan masalah besar bagi perempuan Asmat. Karena dengan melakukan kuwakan merupakan salah satu bukti kasih sayang terhadap keluarga yang meninggal dan ekspresi sedih akan perpisahan yang terjadi” Tambah Tika.

Enam bulan memang belum cukup untuk dapat menggali dan menyerap berbagai kekayaan budaya dan kearifan lokal yang dimiliki bagi masyarakat Asmat. Namun, Tika sendiri mengamini bahwa perempuan Asmat memberikannya banyak pelajaran dan perspektif baru tentang cara mencintai dan menghargai kehidupan.


  • Bagikan Artikel