Konten Berita

Kerelawanan dan The Servant Leadership

Tahun 2009, tim relawan dari sebuah perusahaan otomotif terkemuka datang ke Padang untuk membantu pengungsi korban gempa. Kami menugaskan seorang relawan untuk mengkoordinir tim baru untuk beberapa tugas, salah satunya menyiapkan posko pengungsian yang baru. Beraksilah si relawan ini memberi arahan, sesekali memberi perintah kepada tim relawan otomotif ini, mulai dari mendirikan tenda, menggotong-gotong perlengkapan yang berat, menyiapkan dapur umum dengan berbagai bahan makanan, sampai selesai.

Setelah sepekan mereka bertugas di lokasi bencana, dengan berbagai aktifitas, masih dalam koordinasi relawan yang ditunjuk, saatnya mereka kembali ke Jakarta. Saat pertama datang, mereka hanya perkenalkan nama masing-masing, tetapi menjelang pulang, mereka perkenalkan siapa mereka dan apa saja posisi mereka di perusahaan. Yang mengagetkan, posisi terendah dari tim berjumlah lebih dari 20 orang itu adalah supervisor, beberapa dari mereka adalah General Manager, dan ada dua direktur.

Relawan yang ditunjuk untuk mengkoordinir tim ini hanya bisa senyum-senyum, sebab selama sepekan ia dengan senang hati memberi arahan, tugas bahkan memberi perintah kepada orang-orang yang sebenarnya adalah para pimpinan perusahaan. Di dunia kerelawanan, ini bisa terjadi. Orang yang menjadi pimpinan tertinggi di struktur bisnis, bisa jadi dipimpin oleh ‘orang biasa’ di dalam aktivitas kerelawanan. Yang mengagumkan, semua menjalani peran kerelawanannya tanpa melibatkan posisi struktur bisnisnya.

Di dunia kerelawanan, seorang pimpinan perusahaan dengan senang hati menggotong beras, hujan-hujanan mendirikan tenda, atau sekadar merapihkan sandal para pengungsi yang menunggu pengobatan. Melepaskan semua sekat struktural perusahaan, ketika seseorang dihormati dan dihargai bukan karena jabatannya, melainkan oleh sebab kontribusinya kepada sesama, karena manfaatnya untuk orang lain. Sehingga apapun yang diperankan di dunia kerelawanan, akan dijalaninya dengan penuh tanggungjawab, sungguh-sungguh dan pastinya bahagia.

Servant Leadership

Robert K Greenleaf (1904-1990), Vice President American Telephone and Telegraph Company (AT&T), pada 1970 menulis sebuah buku berjudul The Servant as Leader. Dalam pandangannya, yang dilakukan pertama kali oleh seorang pemimpin besar adalah melayani orang lain. Kepemimpinan yang sejati timbul dari mereka yang motivasi utamanya adalah keinginan menolong orang lain.

Sebutlah Nabi Muhammad SAW, Yesus, Kong Hu Cu, Mahatma Gandhi dan banyak pemimpin ummat lainnya yang dinilai sebagai pemimpin besar yang melayani. Begitu juga dengan pemimpin besar lainnya seperti Abraham Lincoln, Ki Hajar Dewantara dan masih banyak lagi nama-nama yang dikenang sepanjang sejarah atas sebab pelayanannya kepada masyarakat yang dipimpinnya.

Para relawan, disadari atau tidak, tengah menjalani satu peran kepemimpinan tertinggi, yakni melayani. “Sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat kepada orang lain,” itu yang diajarkan Nabi. Tidak ada relawan minta dilayani, karena tidak ada bos di kerelawanan. Pemimpin, tentu harus paling utama dalam melayani.

Karena itu, patut disadari oleh segenap relawan, tak mungkin merasa paling berharga hanya karena ia mendapatkan tugas yang dianggapnya paling hebat. Ukuran kehebatan seorang relawan bukan pada posisi dan tugasnya, tetapi pada kemampuannya menjalani peran kerelawanan sebaik-baiknya.

Tahun 2010 saat ratusan relawan di Merapi, Yogyakarta, sepasukan tim Rescue pernah diberi hukuman hanya karena meremehkan tugas para relawan di dapur umum. Sebuah pelajaran berharga, agar tak lagi merasa paling hebat, paling dibutuhkan dalam tim. Bukan orang lain yang membutuhkan, justru kita para relawan lah yang sebenarnya membutuhkan kesempatan melayani ini. Kesempatan selalu datang, jika bukan kita yang mengambilnya, akan selalu ada orang lain yang siap. Selamat bekerja, selamat melayani. (Gaw)

  • Bagikan Artikel