Konten Berita

Membaca Fenomena Anak Jalanan Melalui Free Food Car

SRUpdate, Bogor ( 7/12)- Aziz dan Wildan menghampiri mobil Free Food Car dengan ekspresi  wajah malu-malu. Keduanya saling dorong satu sama lain, memberi isyarat untuk segera duduk di salah satu deretan kursi kosong yang tersedia.  Siang itu, Jumat 6 Juli 2018, FFC kembali hadir di daerah Ciawi Bogor. Aziz dan Wildan adalah dua anak yang ikut merasakan manfaat FFC siang itu.

“Yuk sini duduk, kita makan siang!”

Aziz dan Wildan tanpa ragu segera meraih kursi setelah relawan FFC mengajak mereka untuk makan bersama. Ekspresi wajah bahagia terpancar dari keduanya.

Aziz dan Wildan adalah teman sepermainan, mereka berdua sudah putus sekolah. Orangtua Wildan sudah meninggal dunia. Kini, ia tinggal bersama uwaknya yang berjualan nasi uduk. Sedangkan Aziz tinggal bersama ayahnya yang berjualan tisu. Keduanya setiap hari tidur dilapak dekat WC umum kampus Juanda, biaya 15 ribu perhari harus dirogoh untuk membayar biaya inap disana.

"Ibu meninggal karena digebukin bapak" Tanpa ragu bocah berbaju merah ini menceritakan kisahnya. Berbeda dengan Aziz, meskipun disini ia hanya tinggal bersama ayahnya, namun keluarga lainnya yaitu ibu dan kakak-kakaknya masih lengkap dan menetap di Jampang, Sukabumi.

Menurut Aziz, dalam sehari ia bisa mengumpulkan 20-30 ribu rupiah dari hasil mengamen di angkot. Namun, keduanya seringkali menghabiskan uang hasil ngamen untuk bermain di warnet.

Biasanya, setelah selesai mengamen keduanya akan membeli nasi di warung Padang.

"Paling makan sama nasi sayur dan daun singkong. 7000 ribu seporsi" ungkap Aziz

Bagi mereka, bisa makan dengan gizinya yang seimbang,lezat dan sehat mungkin adalah hal yang langka. Keduanya makan begitu lahap, bahkan Aziz tak segan meminta tambah karena merasa masih lapar.

"Dari pagi belum makan kak" Ungkapnya.

Aziz dan Wildan adalah potret anak jalanan yang putus sekolah karena keterbatasan aksesk hidup yang dialami oleh keluarganya. Di kota-kota besar seperti Bogor, Jakarta. Bekasi dan Depok kita bisa dengan mudahnya menemukan anak-anak yang bernasib sama seperti Aziz dan Wildan.

Jangan tanya soal motivasi belajar, Aziz dan Wildan mengaku bahwa mereka seringkali menggunakan uang hasil mengamen untuk bermain game online di warnet seharian. Menurut keduanya, setiap hari aktivitas mereka adalah ngamen dan main games di warnet. Seringkali lupa menyisihkan uang hasil ngamen karena keasyikan main di warnet,

“Kalau abis ngamen ya pergi warnet” Ungkap Aziz diamini Wildan.

Ketimbang menabung uangnya untuk membeli buku atau bersekolah, tentu saja keduanya lebih memilih memakainya untuk memanjakan diri dengan bermain game online. Kita mudah saja menilai bahwa keduanya adalah anak nakal dan malas belajar, tapi kita juga tidak boleh menutup mata bahwa keduanya hanyalah korban dari ketidakadilan akses hidup.

Stereotipe kebanyakan masyarakat pada anak-anak jalanan dan pengamen seperti Aziz dan Wildan mungkin seringkali mencuat dan menganggap bahwa mereka adalah "generasi gagal" dan anak-anak liar terlantar. Hal ini menyebabkan mereka cenderung mendapat diskriminasi dan dijustifikasi oleh masyarakat sekitar.

Free Food Car memang seringkali menjadi wadah berkumpulnya para penerima manfaat dan relawan, yang terjadi adalah pertukaran informasi yang secara tidak langsung memberikan edukasi dan penyadaran bagi para relawan tentang realita hidup di jalanan, baik yang dialami oleh para pengamen,pedagang asongan maupun anak jalanan. Selain kebahagiaan yang dirasakan karena bisa melihat mereka tersenyum menikmati hidangan, kita pun bisa berbincang dan mendengarkan kisah hidup mereka yang seringkali diluar dugaan.

Hal yang bisa diambil dari pertemuan bersama Aziz dan Wildan adalah bahwa ketidakpedulian sekitar terhadap anak-anak yang terlantar membuat kondisi anak-anak tersebut semakin tak terarah, selain tak bisa mendapatkan sentuhan akses pendidikan dan perhatian yang mumpuni, mereka pun dengan mudahnya bisa terseret pada berbagai macam pergaulan yang bisa merusak diri.

Aziz dan Wildan masih punya masa depan, keduanya juga masih punya mimpi. Aziz masih punya cita-cita yang ia lontarkan dengan bangganya, “Aku mau jadi sopir biar bisa jalan-jalan terus!” Ungkapnya.

Sementara itu Wildan merasa kebingungan ketika ditanya ia ingin jadi apa. Sungguh menyedihkan saat anak-anak Indonesia bahkan “kehilangan” ruang untuk bermimpi dan berimajinasi dalam dirinya.

Jalanan memang telah membentuk keduanya menjadi pribadi yang cenderung keras dan nekad. Namun itu semua tak berarti bahwa Aziz dan Wildan telah menjadi anak-anak yang jauh dari cahaya harapan masa depan. Proses hiduplah yang pada akhirnya akan membawa mereka pada jalan dan pilihan perjuangan, dan kita harus sadar bahwa kita pun ikut berperan dan bertanggung jawab untuk merangkul mereka agar bangkit meraih masa depan.

Aziz dan Wildan tidak sendirian, data Kemensos pada Agustus 2017 menunjukan bahwa diluar sana ada sekitar 16.290 anak jalanan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk melakukan pendampingan dan pemberdayaan anak jalanan, baik oleh pemerintah, LSM, mapupun komunitas sosial yang fokus bergerak di bidangnya. Namun persoalan anak jalanan memang bukan cuma urusan pemerintah atau LSM, ini hatus menjadi tanggung jawab kita bersama, setidaknya kita bisa memberikan sumbangsih dan kontribusi sesuai dengan keahlian yang kita miliki. Sekedar mengajak mereka ngobrol dan memberikan semangat pada mereka juga merupakan langkah kecil untuk memberikan motivasi, bahwasanya mereka akan tahu bahwa masih banyak yang peduli dan mau mencoba memahami.

Anak jalanan bukanlah objek tak bertuan, mereka adalah subjek yang merdeka sebagai manusia, mereka memiliki kehidupan dan cerita, sungguh tidak bijak jika kita menilai mereka hanya berdasar stigma. Mendengarkan mereka berkisah dan menyerap apa yang mereka ceritakan kadang menjadi energy tersendiri agar kita lebih sering melakukan refleksi dan intropeksi. Pada akhirnya pendampingan humanis dan pendekatan yang tepat adalah salah kunci untuk bisa menggandeng dan merangkul anak jalanan.

Tentang seberapa mau dan mampu kita untuk peduli?

Tentang sebagaimana kuat dan peka kita untuk berempati?

Tentang langkah seperti apa yang akan kita mulai untuk merintis kontribusi?

Free Food Car selalu membuka perspektif baru tentang kehidupan dan mendekatkan kita dengan berbagai relita. Free Food Car bukan hanya ajang bagi-bagi nasi gratis semata, dibalik itu semua ia menjadi pintu pada terbukaya berbagai pembelajaran baru terutama soal pembacaan terhadap realita sosial yang terjadi, salah satunya soal anak jalanan.


  • Bagikan Artikel