Konten Berita

Menenun Harapan Bersama Perempuan Adonara

SRUpdate, Tatar Nusantara, Lamahala (7/11)- Salah satu bukti keberagaman dan kekayaan budaya Indonesia adalah lahirnya berbagai karya khas hasil kerja keras tangan-tangan masyarakat lokal. Karya tersebut bukan hanya dimaknai sebagai produk budaya atau upaya melestarikan warisan leluhur, melainkan juga merupakan bagian dari ikhtiar masyarakat untuk menggerakan roda ekonomi.

Masyarakat di Nusantara Tenggara  dikenal dengan karya kain tenunnya yang khas dan etnik. Beberapa daerah masih mempertahankan kain tenun sebagai salah satu produk budaya dengan berbagai motif uniknya yang beragam.

Desa Lamahala yang terletak di Adonara, Flores Timur merupakan salah satu daerah dampingan  Relawan Tatar Nusantara. Kain tenun Adonara merupakan salah satu potensi budaya yang masih dilestarikan dan dikembangkan disana. Fitri Wahyuningsih, Relawan Tatar Nusantara Adonara pun tak mau melewatkan kesempatan untuk menggali lebih dalam mengenai kain tenun Adonara.

Bisaya produk tenun asli dari sebuah di nusantara pasti memiliki harga yang relative mahal. Minimal harganya berkisar Rp. 300.000 untuk ukuran satu sarung. Semua ini karena proses pembuatannya pun relative panjang dan memakan waktu lama.

Fitri mengisahkan bahwa di Desa Lamahala, banyak ibu-ibu yang memanfaatkan waktu luangnya untuk menenun. Tapi jangan dibayangkan penghasilan mereka banyak dari menenun. Biasanya mereka hanya dibayar Rp. 15 ribu per lembar kain. Untuk satu sarung seharga Rp300 ribu - Rp400 ribu, mereka mendapat Rp30 ribu saja.

“Harga jasa menenun ini memang tidak termasuk menghitung dan menyusun benang yang akan ditenun. Masyarakat biasanya mengambil pekerjaan menenun dari penjual kain tenun. Para penjual inilah yang memintal dan menyusun benang sampai siap tenun.” Jelas Fitri

Emma Kewa misalnya. Ia menenun untuk membantu perekonomian keluarga sekaligus menjadi bentuk partisipasinya melestarikan warisan leluhur.

“Ya begini kan tidak banyak uangnya, tho? Tapi lumayan, dari pada kita duduk kosong. Kita menenun ini dapat Rp15 ribu kah Rp30 ribu kah, kan lumayan untuk beli bawang-cabe,” katanya suatu hari.

Alat tenun yang dipakai Emma Kewa merupakan warisan dari nenek mertuanya yang dulu, juga dipakai ibu mertuanya. Emma Kewa juga sempat mengajari beberapa anak SMA yang datang ke rumahnya, praktek belajar menenun. “Menenun ini juga warisan budaya, tho,” katanya.

Sebenarnya, Emma Kewa juga bisa untuk membuat satu kain tenun dari awal sampai akhir. Mulai dari memintal benang, menghitung per helainya, kemudian menyusunnya sesuai motif yang diinginkan. Namun, untuk membuat sendiri semuanya itu, membutuhkan modal yang cukup banyak, yang biasanya sulit untuk mereka penuhi sendiri.



Hal ini juga tidak hanya dirasakan oleh Emma Kewa. Ada juga Emma Biba dan lainnya. Hanya beberapa orang saja yang memiliki modal untuk membuka usaha jual-beli kain tenun ini. Rata-rata, wanita Lamahala hanya menjual jasa tenunnya.

Fitri menambahkan bahwa sebelumnya di Lamahala juga pernah dibuat kelompok tenun. Bahkan mereka mendapat pelatihan menenun di kabupaten dan diberi alat tenun oleh dinas terkait. Namun, kelompok tenun berhenti di tengah jalan dengan berbagai alasan. Masyarakat lebih suka menenun sendiri di rumah dibandingkan kolektif seperti itu.

Padahal kain tenun merupakan komoditas yang cukup laku di luar sana. Apalagi dibuat secara manual dengan berbagai cerita pembuatan yang pastinya unik. Peran perempuan Adonara menyadari betul menenun bukan hanya bukti partisipasi untuk melestarikan budaya, tapi sebagai ikhtiar untuk menggerakan roda ekonomi keluarga.


Sebagai relawan, Fitri merasa tertarik dan tergerak untuk menggali dan mengetahui lebih jauh soal kegiatan mama-mama dalam menenun. Ia pun seringkali melihat dan mencoba proses menenun bersama mama-mama.  

Saat ini, Fitri terus berupaya membersamai mama-mama dan perempuan Adonara lainnya untuk terus berkarya dan mengembangkan kain tenun khas Lamahala, memperkenalkanya ke dunia luar dan mulai mencoba kreasi karya berbahan dasar kain tenun seperti tas dan dompet. Hal ini merupakan salah satu upaya untuk bisa merintis pemberdayaan perempuan di Lamahala.


  • Bagikan Artikel