Konten Berita

Para Perempuan Penyala Nusantara

SRinfo, Depok (3/8)-  Happy International women’s day! Setiap perempuan adalah cahaya berharga yang lahir ke alam semesta. Kita diberkahi dengan fitrah mulia untuk menjadi penerang bagi semesta. Islam sangat memuliakan sosok perempuan. Tentu kita semua tahu bahwa sebelum Islam datang, kaum perempuan di Tanah Arab hidupnya sangat tersiksa dan sengsara. Mereka tidak dimanusiakan dan hanya dianggap sebagai objek yang tak berharga dan tak berguna.Saking dianggap hinanya, bahkan banyak orangtua yang mengclaim bahwa memiliki anak perempuan adalah aib dan harus dikubur hidup-hidup.

Tantangan bagi perempuan tidak berhenti disitu, setelah Islam datang memberi oksigen dan ruang yang humanis bagi kemuliaan seorang perempuan, berbagai penindasan yang disebabkan oleh dikte-dikte sistem  koloinialisme dan kapitalisme membuat perempuan kembali terinjak-injak dan mengalami penindasan. Pada masa penjajahan dulu, kita tentu tahu bahwa hak-hak pendidikan dan hak-hak berserikat untuk perempuan Indonesia sangat dikerdilkan bahkan tidak diakomodir.

Kaum perempuan tidak tinggal diam melihat hak-haknya dirampas oleh sistem yang menindas, bermunculan nama-nama seperti Kartini, Rohana Kudus, Kemala Hayati, Rahmah El Yunus, Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika dan sosok-sosok perempuan penyala nusantara lainnya yang berupaya memperjuangkan hak-hak pendidikan dan hak-hak hidup bagi perempuan Indonesia.

Dewasa ini, perjuangan perempuan penyala nusantara masih terus berlanjut. Entah berapa jumlahnya, yang jelas ada banyak perempuan penyala nusantara yang sedang bergerak dan berjuang dalam sunyi, tidak ada tepuk tangan, tidak ada pujian bahkan sorak soray.

Sekolah Relawan melalui program Tatar Nusantara sadar bahwa peran dan  kiprah perempuan sangat penting dan berpengaruh bagi perubahan, maka dari itu Sekolah Relawan menjembatani para perempuan penyala untuk dapat berkiprah dibeberapa pelosok nusantara. Kiprah tak mengenal usia, tak mengenal suku dan budaya, karena sebuah perjuangan adalah tugas kemanusiaan yang universal.

Maka dari itu, dalam memaknai hari perempuan internasional, Sekolah Relawan ingin memperkenalkan sosok-sosok #PerempuanPenyala yang sedang  berkiprah dan  mengabdi dibeberapa pelosok Indonesia melalui program Tatar Nusantara.

  1. Tika dan  Miersa, dua #PerempuanPenyalaAsmat

Tika dan Mirsa sadar bahwa terlahir sebagai perempuan bukan alasan untuk mengamputasi langkah kerelawanan. Mereka berdua telah berangkat untuk mengabdi ke Asmat, membersamai perjuangan masyarakat Asmat selama setahun kedepan. Persoalan Asmat bukan cuma gizi buruk, Tika dan Mirsa akan membersamai perjuangan masyarakat Asmat untuk menggali harta karun lokal (potensi lokal), karena potensi itulah yang berguna sebagai senjata perubahan.

 

  1. Fitri, #PerempuanPenyalaAdonara

Sosoknya yang mungil tidak merubuhkan nyalinya untuk bergerak hingga pesisir timur.Fitri memiliki misi untuk memberdayakan pemuda-pemuda Adonara dan mengembangkan komunitas lokalnya untuk mampu berdaya mengelola sumber mata air lokal agar kekeringan tak lagi menyerang desa.

 

  1. Okta, #PerempuanPenyalaMendawai

Perempuan lulusan Univeritas Gajah Mada memulai petulangannya sebagai #PerempuanPenyala di daerah Mendawai , Kalimantan Tengah.  Ia percaya bahwa perempuan-perempuan memiliki kekuatan dan daya untuk bisa menopang kemandirian desanya. Bersama perempuan Mendawai, Okta merintis kiprahnya untuk mengembangkan pendidikan dan ruang berkarya. Energi luar biasa itu ada pada diri para perempuan Mendawai, membuatnya semakin kuat untuk bergerak.

 

  1. Vita, #PerempuanPenyalaOeUe

Vita tak pernah menyangka ia akan sejatuh cinta itu pada Oe Ue, yang jelas kiprahnya sebagai #PerempuanPenyalaOeUe adalah bukti dari tekadnya untuk memberikan kontribusi terbaik untuk tanah timur. Vita mengepakan sayapnya untuk bisa bersama-sama terbang bersama masyarakat Oe  Ue, menjadi bagian dari masyarakat, menggali masalah bersama hingga mencipta solusi secara kolektif adalah pengalaman yang tidak terbeli.

  1. Febri, #PerempuanPenyalaKaliWukluh

Gadis belia ini memutuskan untuk terjun langsung ke masyarakat beberapa hari setelah ia wisuda. Setahun adalah sebuah medan perjuangan yang tak mudah. Tapi Febri mengawali kiprahnya dengan langkah yang mengguggah . Bersama beberapa anak dan pemuda, ia mengagas usaha pembuatan kaca cermin dari kayu limbah. Perempuan yang akrab dipanggil Pane ini menyuarakan bahwa sendirian diri kampong orang bukanlah sebuah penghalang untuk tumbang dan kalah pada ketakutan.

Mereka semua, para perempuan penyala akan berkiprah dan berjuang dengan caranya masing-masing. Medan perjuangan mereka berbeda dan tidak sama, tapi spirit kerelawanan berhasil menyatukan mereka dalam satu nafas juang yang sama. Semua perempuan yang memiliki tekad dan upaya untuk melangkah dan berkontribusi  nyata adalah #PerempuanPenyala. Apakah kamu juga adalah #PerempuanPenyala? apa upaya dan caramu untuk menjadi penyala kebaikan disekitar?

 

  • Bagikan Artikel