Konten Berita

Sosok Semangat di Moment International Volunteer Day

Menjadi pemuda produktif, ternyata perlu membentuk kepribadian dengan belajar bersosialisasi dengan orang lain. Salah satu caranya dengan menjadi relawan.

Seperti namanya, relawan adalah orang yang bekerja sukarela tanpa mengharapkan imbalan. Relawan hadir layaknya warna-warni pelangi. Setiap warnanya memberikan goresan warna untuk kemajuan negeri.

Untuk menciptakan gairah dalam dunia kerelawanan, kita akan mencari acuan atau sosok inspiratif yang menjadi idola kita. Sejatinya dunia memang tidak pernah sepi dari inspirasi. Dari sosok inilah energi yang menggerakkan kehidupan akan bangkit dan proses untuk menjalani hidup akan lebih semangat.  

Nah, berikut sosok semangat di Moment International Volunteer Day

1. Roel Mustafa "Lelaki 1.000 Janda".

Salah satu founder Sekolah Relawan ini, sampai saat ini masih menjadi perbincangan hangat di media, setelah postingan milik akun Facebook Fissilmi menceritakannya dengan julukan "Lelaki 1.000 Janda". Roel sempat diundang ke berbagai stasiun TV untuk menceritakan hal yang jadi perbincangan masyarakat.

Roel atau om Cuy memang suka mencari janda. Namun, janda yang dicarinya adalah janda tua dan miskin. Sejauh ini, sudah sekitar 300 janda yang dibantu. Roel mengungkapkan, “setiap bertemu dan menyantuni mereka, saya selalu melihat rona bahagia terpancar diwajahnya.”

Roel mengaku Kebiasannya mencari janda miskin dan tua berawal dari kebiasaan almarhumah ibunya yang selalu membagikan makanan ke janda-janda tua yang tinggal di sekitar rumah mereka. Setelah ibunya wafat dan selang berapa tahun kemudian, Roel baru menyadari janda-janda tua itu tidak ada lagi yang membantu. Dari situlah, muncul keinginan untuk membantu para janda tua itu.

Selain giat di kegiatan sosial dan sebagai salah founder Sekolah Relawan, Roel juga sibuk mengurus usaha warung steak "Home Steak Home" yang berlokasi di Simpangan Depok.

2. Bayu Gawtama

Aktif sebagai volunteer dalam berbagai kegiatan sosial kemanusiaan, diyakininya sebagai cara untuk belajar lebih banyak dari orang lain.

Selama lebih dari 10 tahun menjalani aktifitas sosial kemanusiaan, memberi pengalaman hidup yang menurutnya patut dirangkai, kemudian dibagikan kepada orang lain.

Gaw, panggilan akrabnya telah menerbitkan 7 buku, antara lain, Oase Jiwa, Berhenti Sejenak, School of Life, Lelaki 11 Amanah, Berguru Pada Kehidupan, Tangan Allah di Seutas Tali, dan Oase Hati.

Selain aktif menggerakkan Sekolah Relawan, Gaw juga aktif di forum komunitas School of Life (SOL) yang didirikannya. Gaw bermimpi, dalam 10 atau 20 tahun mendatang, pemimpin bangsa lahir dari seorang relawan.

3. Dony Aryanto

Dony sendiri telah puluhan tahun terjun sebagai relawan di berbagai daerah yang mengalami bencana alam. Menurutnya, masyarakat Indonesia pada umumnya memiliki kepedulian tinggi untuk menjadi relawan bagi sesamanya. Namun, ketika terjun ke lapangan, masih banyak relawan yang hanya bermodal semangat dan keinginan kuat saja.

Tugas teknis relawan sering kurang dipahami oleh mereka. Selain itu, masyarakat juga masih mengidentikkan relawan hanya pada saat terjadi bencana alam. Karena itu, bersama rekan-rekannya, Dony mendirikan Sekolah Relawan.

Executive Director Sekolah Relawan ini pun memiliki visi dalam hidupnya, “Aku ada, ketika aku bisa berkarya dan bermanfaat bagi orang lain."

4. Intan

Kita pasti ingat peristiwa kebakaran hutan di lahan gambut yang terjadi 2015 lalu. Di antara personel TNI serta relawan yang berjibaku memadamkan api di Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, sosoknya begitu menyita perhatian. Wajar saja, di tengah kerumunan para pria yang penuh peluh itu dialah satu-satunya perempuan.

Intan Syafrini Fazrianti, gadis asal Bogor, Jawa Barat yang nekat datang jauh-jauh ke Kalimantan untuk membantu pemadaman api di lahan gambut hutan Kalimantan.

Untuk memenuhi hasrat itu, Intan mengesampingkan kesehatannya sendiri. Intan bercerita, keinginan untuk menjadi relawan muncul ketika membaca pemberitaan media massa tentang maraknya kebakaran hutan dan kabut asap di Sumatera dan Kalimantan.

Setelah tiba di tempat tugas, dia mendapati kondisi yang tak mudah. Bahkan, meski sudah dipadamkan tak ada jaminan api tak bakal lagi muncul. Sejak tiba di Desa Tumbang Nusa, dia pun mulai menjalani rutinitas yang ketat di posko relawan serta di lokasi hutan yang terbakar. Namun, yang paling menegangkan bagi Intan adalah ketika berada di lokasi pemadaman hutan yang terbakar serta di lokasi pembuatan sumur bor. Saking bersemangatnya, dia lupa akan kondisi fisiknya sendiri.

Dari pengalaman selama di hutan Kalimantan itu, Intan merasa banyak hal yang dia dapat. Seperti pentingnya menjaga lingkungan agar tidak rusak oleh tangan tak bertanggung jawab. Dia juga memberi penghargaan tinggi kepada seluruh relawan, anggota TNI serta aparat lainnya yang mau meluangkan waktu untuk membantu memadamkan api.

5. Azizah

Program Citizen (salah satu rubrik di Kalteng Pos), terdaftar 250 aksi positif anak muda kalteng yang terdaftar membawa Azizah, terpilih menjadi Alpha Zetizen of The Year 2017 membawa nama Palangkaraya Clean Action (PCA) masuk dalam 50 besar. Dari 50 besar kemudian ada penyaringan lagi, Azizah khusus clean action bersama 4 anak muda lainnya dikirim ke Surabaya. Setelah melewati proses panjang, Azizah terpilih untuk mewakili Provinsi Kalteng berangkat ke New Zealand.

Panitia menilai program clean action sangat baik, dan salah satu hal penting dari penilaian panitia adalah konsistensi tim @pky_clean_action dalam menjalankan programnya. PCA sendiri sudah berjalan hampir dari 2 tahun. Di New Zealand, Azizah berkesempatan untuk sharing program clean action. Azizah dan seluruh tim PCA merasa sangat bangga dan berterima kasih atas didikan, binaan dan pendampingan yang dilakukan Sekolah Relawan selama ini.

  • Bagikan Artikel