Konten Berita

Warung Bangkit,  Langkah Perjuangan Seorang Ibu

SRUpdate, SulTeng Bangkit, Sulawesi Tengah (12/11) "Suamiku ikut jadi korban lumpur. Sampai sekarang jasadnya belum ketemu.." Sukni tak pernah menyangka bahwa peristiwa di 28 September 2018 akan mengubah hidupnya.  Sore itu Sukni sedang berada di rumahnya saat gempa terjadi, anak pertamanya mengalami luka parah di kepala karena tertimpa reruntuhan rumah. Sementara sang suami, hingga kini jasadnya belum di temukan. Lumpur Likuifaksi yang menerjang Petobo telah menelannya.

Menjadi janda di usia 18, dengan satu anak bayi dan satu anak di dalam kandungan. 

" Saya sudah ikhlas. Mau dikata apa lagi? Dia sudah  tidak ada. Saya harus mandiri. Saya harus  besarkan anak-anak saya. Tidak boleh saya bergantung sama siapa-siapa..." Sukni bertekad untuk bangkit, tak ada alasan untuk berpangku tangan apalagi mengharap belas kasihan. 

Tidak mudah memang menjadi seorang orangtua tunggal di usia yang begitu muda, 18 tahun. Tapi inilah peran dan tanggung jawab yang kini ia emban. Tak sedikit pun rasa sesal ia rasakan. 

Sukni harus berhenti sekolah sejak kelas 3 SD, ia harus merawat sang nenek yang sakit keras. Karena itulah ia bertekad untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya, Sukni memang tidak khatam bangku sekolah formal, namun bangku sekolah kehidupanlah yang menempanya belajar  menjadi seorang ibu yang tangguh dan mandiri. 

Sukni tak sendiri. Nur juga mengalami hal serupa. Suaminya ikut menjadi korban lumpur Likuifaksi di Petobo. Jasadnya juga tak kunjung ditemukan. Tapi, seperti Sukni, Nur juga sudah ikhlas. Ia harus fokus membesarkan dan merawat anak semata wayangnya. 

Kehadiran Sukni sebagai seorang sahabat yang senasib dan seperjuangan membuat Nur semakin mantap untuk melangkah dan bangkit. 

Nur dan Sukni kini adalah tulang punggung keluarga, keduanya memiliki tekad untuk merintis usaha. Tinggal di pos penyintas tak membuat keduanya terus berpangku tangan mengharap sumbangan.


Warung Bangkit adalah langkah awal dari perjuangan Nur dan Sukni. Melalui Program  Women Empowerment: Berdaya setelah Bencana, Sekolah Relawan mendampingi keduanya untuk memulai usaha warung sederhana. 

Pasca bencana, tidak dipungkiri banyak perempuan yang ditinggal suami, mereka akhirnya harus jadi sosok single fighter yang tetap harus berjuang demi keberlangsungan hidup keluarganya. 

Karena itulah Sekolah Relawan ingin membersamai para perempuan korban bencana untuk kembali bangkit berdaya pasca bencana.

Sukni dan Nur hanyalah salah dua dari potret perempuan yang tetap harus bangkit dan berjuang sebagai seorang single fighter. Masih banyak perempuan dan kaum ibu lain yang harus kita bersamai untuk kembali bangkit dan mandiri.


  • Bagikan Artikel