10 Tantangan Bagi Relawan di Lokasi Bencana

10 Tantangan Bagi Relawan di Lokasi Bencana

SRUpdate, Edukasi Relawan (1/16)- Gimana sih rasanya jadi relawan bencana dan terlibat dalam proses evakuasi korban? Harus menelusuri puing-puing reruntuhan gempa atau bergelut dengan bangunan runtuh pasca tsunami? Susah nggak sih harus diam berbulan-bulan mendampingu mereka hingga pulih kembali?  Hal inilah yang mungkin seringkali bikin kita penasaran. Nah...Sekolah Relawan punya beberapa jawaban soal apa aja sih tantangan yang dirasakan para relawan di lokasi bencana. Yukkk simaaak bersamaaa~~~

1.EVAKUASI KORBAN

Menyisir puing bangunan, mencari korban, menyelamatkan mereka yang terjebak di puing reruntuhan, membersihkan sisa reruntuhan.  Kira-kira itulah beberapa proses evakuasi dan respon darurat yang harus dilakukan tim rescue saat pertama kali merespon bencana yang terjadi. Hal ini tentu saja tetap menjadi tantangan nyata, meskipun sudah sering turun ke medan bencana, tapi yang namanya aksi evakuasi dan penyelamatan korban bukanlah hal biasa, ia juga melibatkan nyawa. Bukan cuma nyawa korban tapi juga nyawa relawan.

2. KOMUNIKASI DENGAN KELUARGA KORBAN

Setelah berjuang melakukan pencarian dan penyelamatan korban, ternyata orang yang dicari ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Kalau sudah begini, tugas masih belum usai, kadang para relawan rescue juga harus menyiapkan bahasa terbaik untuk disampaikan pada pihak keluarga. Berat rasanya harus mengabarkan bahwa orang yang dikasihi mereka telah pergi untuk selamanya, atau bahkan tak bisa ditemukan jasadnya. Tapi, percayalah bahwa para Tuhan selalu hadir dan tak pernah absen memberikan berkahnya, segala proses berat itu tetap menghadirkan hikmah dan pelajaran.

3. ASSESSEMENT DAN PENDATAAN KEBUTUHAN PENYINTAS

Bencana membuat banyak masyarakat harus mengungsi, mereka tak hanya kehilangan sanak keluarga dan rumah, tapi juga kehilangan harta benda lainnya. Seorang relawan yang terjun ke medan bencana juga harus mampu membaca situasi darurat terkait kebutuhan masyarakat atau pengungsi. Banyaknya titik pengungsian yang tersebar atau belum terkoordinirnya pos pengungsian adalah tantangan bagi para relawan untuk mampu bersinergi mengorganisir pos pengungsian, mendata jumlah korban dan Pengungsi berikut dengan kebutuhannya.

4. DISTRIBUSI BANTUAN KE WILAYAH TERJAL

Setelah bantuan atau logisitik datang, tantangan baru dimulai. Para relawan harus bersiap mendistribusikan bantuan untuk masyarakat yang tepat sasaran.  Beberapa wilayah pengungsian bahkan ada di titik-titik terjal dan terpencil yang medannya sulit dilalui. Ancaman mobil mogok, atau jalan rusak bahkan jembatan runtuh sudah jadi hal familiar yang harus dihadapi para relawan. Bagaimanapun juga, bantuan dari donatur adalah amanah, sehingga hal ini jadi tantangan agar relawan bisa mendistribusikan bantuan secara tepat sasaran.

5. KETERBATASAN FASILITAS DAN AKSES 

Saat bencana terjadi, kondisi di suatu di wilayah tentu tak akan kondusif. Mulai dari listrik mati, sinyal terganggu, jalur transportasi terhambat hingga kelangkaan bensin. Hal ini inilah juga yang sering dihadapi relawan saat awal bencana terjadi. Relawan harus tetap siap untuk turun Evakuasi dan menindaklanjuti laporan sedangkan beberapa kali bensin mengalami kelangkaan atau listrik untuk mencharger handphone dan HT mati. Sebisa mungkin kendala tersebut tetap diatasi, mencari solusi di tengah segala keterbatasan akses informasi, transportasi dan komunikasi.

6. POTENSI BENCANA SUSULAN

Saat orang lain meninggalkan wilayah bencana, para relawan justru berbondong-bondong mendatangi lokasi bencana untuk menorehkan aksi. Dikejar potensi bencana susulan juga jadi tantangan yang tak bisa diremehkan. Tapi, rasa takut tersebut nggak bikin relawan kalang kabut dan cabut, yaa...,rasa takut memang manusiawi, karena relawan memang manusia biasa. Tapiiiii,yang penting adalah gimana kita bisa mengendalikan dan mengelola rasa takut jadi energi positif.

7. JAUH DARI KELUARGA DAN HIDUP SEADANYA 

Baju cuci-pake-kering, siklus yang berulang. Bahkan pada awal bencana terjadi, relawan juga harus makan alakadarnya padahal tenaga dan pikiran terkuras untuk aksi kemanusiaan. Jauh dari keluarga juga bikin hari-hari dirundung kerinduan, tapi.....semangat dan cinta yang menggerkan hati dan pikiran tetap jadi sumber kekuatan untuk tetap fokus dan ikhlas dalam aksi kemanusiaan.

8. MENINGGALKAN RUTINITAS DAN ZONA NYAMAN

Kamu kan lagi skripsian, kok malah jadi relawan? Kamu udah sering ijin kantor loh kok malah jadi relawan lagi? Ini toko nanti siapa yang jagain kok malah ditinggalin ke lokasi bencana? Udah enak hidup disini, aman dan nyaman, kok malah nantangin bahaya sih?

Pertanyaan seperti itu yang kerap kali ditujukan pada mereka yang nekad meninggalkan rutinitas demi aksi kerelwanan. Nggak mikirin diri sendiri katanya, ga mikirin masa depan katanya. Ah, tapi para relawan selalu punya cara untuk menjawab itu semua, panggilan kemanusiaan nggak bisa diukur dengan indikator dangkal atau perbandingan apapun. Hidup adalah pilihan, dan para relawan telah memilih jalannya.

9.MEMBERIKAN EDUKASI DAN PEMAHAMAN BAGI MASYARAKAT

Kepedulian masyarakat saat terjadi bencana patut diapresiasi, masyarakat tergerak untuk berbagi dan berdonasi. Tapiii...beberapa masih belum paham soal cara dan etika berbagi. Sehingga seringkali ada saja yang menyumbangkan pakaian yang sebetulnya tidak layak untuk dibagikan. Alih-alih ingin berbagi, ajang bedonasi pakaian bekas malah jadi kesempatan "menertibkan sampah kain", ada yang bolong, ada yang sobek. Sesampainya di pos pengungsian yang ada malah penumpukan, menghadirkan sampah baru. Pada akhirnya, edukasi pada masyarakat soal respon bencana juga menjadi tantangan sendiri bagi para relawan, dengan tetap menggunakan bahasa yang baik dan jelas, para relawan harus mampu jadi edukator yang mencerahkan.

10.MEMBERSAMAI PENGUNGSI UNTUK TETAP SEMANGAT DAN BANGKIT LAGI

Setelah masa darurat bencana usai, masuklah masa recovery dan pemulihan. Sebuah tantangan baru bagi relawan untuk bisa membersamai dan menemani masyarakat agar bisa bangkit kembali menata kehidupan. Segala rasa trauma dan duka akibat bencana pasti masih bersisa, para relawan harus berjuang memantik semangat juang dan menggerakan masyarakat agar kembali memulai langkah perjuangan mereka. Tentu saja ini bukan hal mudah, butuh waktu dan tenaga ekstra. Para relawan harus mampu membersamai mereka seperti sahabat, keluarga, bahkan penyala.

Kira-kira tantangan apalagi ya yang harus dihadapi relawan di lokasi bencana?