Ada Mimpi dan Cerita Besar di Balik Sendal Butut Ucok

Ada Mimpi dan Cerita Besar di Balik Sendal Butut Ucok

sekolahrelawan.com- Ada sebuah makna yang mengajarkan kita menjadi seorang manusia, memberi dan bersyukur adalah komposisi kehidupan yang alami untuk mahluk sosial. Berbagai kondisi menerpa lalu menempa hidup kita, ada yang kalah dan menyerah namun banyak juga yang mengalah untuk merakit kehidupan yang lebih hidup.

Kenalkan, Ucok, nama panggilan anak lelaki yang memakai sendal butut di kakinya. Ucok adalah anak yang terlihat lusuh dan biasa saja, anak tertua yang putus sekolah dasar. Ucok harus menghentikan derap langkahnya ke sekolah karena keluarganya tak punya biaya. Sebagai si sulung, satu-satunya anak lelaki, dia pilih mengalah untuk masa depan adik-adiknya. Dia punya 2 adik perempuan, dari bapak yang sama. Ibunya menikah lagi, ketika ayah Ucok meninggal. Dari perkawinan kedua, Ucok punya tambahan 1 orang lagi adik perempuan. Ayah sambungnya, hanyalah tukang bangunan. Ucok bantu-bantu demi bisa ikut cari makan.



“Mau apa, Cok?” tanya saya, ketika kami berjumpa dalam program Sekolah Relawan, Belanja Bareng Yatim dan Dhuafa.

Diam dia, lama sekali. Bukan karena malu menjawab. Tapi ia sudah lama tidak pernah mau apa pun dalam hidupnya. Terbiasa menahan diri. Berpuasa menahan napsu keinginan. Demi adik-adik.

“Apa cita-cita kamu, Nak”, lanjut saya.

Sambil tersipu malu, ia menjawab, “mau jadi atlet bulu tangkis”.

Giliran saya terdiam. Kami berbicara dari hati ke hati. Berusaha untuk tidak menitik air mata, namun kami berdua memilih untuk lebih bahagia.

Wajahnya yang sudah lama tidak tersenyum, sumringah ketika ada sepatu berwarna biru. Dia mencoba sepatu bertali itu. Sulit sekali Ucok untuk menali sepatunya. Tangannya gemetar. 

“Kenapa, Cok?” Saya pegang tangan itu.

“Aku sudah lama tidak bersepatu, Bubu. Lupa cara menali sepatu” Perlahan dia berbisik, Ya Allah. Astagfirullah.


Saya ajarkan Ucok bagaimana menali sepatunya. Sambil terus mengucapkan maaf ke Allah. Bergetar dasyat hati ini. Si Ucok, calon atlet bulu tangkis. Anak tukang bangunan yang putus sekolah, kemana-mana bersandal butut sebagai alas kaki andalannya. Saya perhatikan jari-jemari kakinya. Khas anak marjinal yang telah melalui kehidupan keras.

Entah, apakah hari ini telah menjadi batu loncatan untuk mewujudkan impiannya, menjadi atlet bulu tangkis. Tak tahu. Tapi yang pasti, selama 2 jam, kami tertawa terus. Melupakan getir serta kepahitan sejenak.

Sekolah lagi, Cok! Kejar impian kamu. Dunia memang tidak selalu memberikan cerita manis. Tapi hanya hati yang bersih dan luas selalu dapat melihat cahaya. Saya ajarkan dia membuka lebar pintu hatinya, agar siapa pun dapat masuk dan keluar dengan leluasa.


Oleh: Bubu Shahnaz Haque