Bantuan untuk Patma: Aku, Nenek dan Deru Deru Tsunami

Bantuan untuk Patma: Aku, Nenek dan Deru Deru Tsunami

Bencana Tsunami yang beberapa bulan lalu sempat melanda kawasan Selat Suda memang tak merenggut satupun keluargaku. Namun kepanikan, rasa takut, dan trauma tentu tak bisa hilang begitu saja dari ingatan ini.

SRinfo, Inspirasi dari Patma (22/2)- Namaku Patma, gadis dari tepian pantai. Orang tuaku sudah meninggal dua tahun lalu, aku hidup bersama nenekku, yang dengannya juga aku berjuang untuk selamat dari Tsunami.

Masih teringat jelas, sore itu aku sedang keluar bermain bersama  teman-teman di tepi pantai. Entah firasat apa yang aku rasakan, setelah melihat lava gunung Krakatau dari kejauhan tiba-tiba aku memiliki rasa takut dan memutuskan untuk kembali pulang bersama salah satu temanku yang kebetulan sedang menginap.

Selang beberapa jam, tiba-tiba aku dikagetkan dengan teriakan histeris warga tentang Tsunami. Sontak hal tersebut membuatku kaget dan mengajak nenek mencari tempat aman. Namun nenek tak serta-merta menuruti permintaanku untuk diajak keluar rumah mencari tempat aman. Usia yang sudah renta membuat nenekku memilih tinggal di rumah dan enggan untuk berpindah. Bahkan nenek sempat berkata “Kalau Patma mau pergi, pergi saja, insyaallah nenek gak apa-apa di rumah.”

Di tengah rasa panik dan dalam keadaan menangis, aku terus meyakinkan nenek. Aku bilang sama nenek “Jika nenek sayang Patma nenek harus ikut Patma bagaimanapun caranya, Patma gak punya siapa-siapa selain nenek” Mendengar permohonanku, akhirnya nenek luluh dan menurutiku. Dengan dibantu temanku, aku membawa neneknya menuju dataran tinggi.

Ditengah perjalanan, tiba-tiba nenek berhenti akibat obatnya tertinggal. Nenek memintaku untuk kembali pulang untuk mengambil obatnya. Kondisi panik membuatku tak bisa berfikir panjang untuk membawa apapun, selain apa yang aku gunakan. Saat itu aku sangat kacau dan gelisah. Jika aku kembali, aku takut terkena ombak. Namun jika tidak kembali, Patma takut nenek kenapa-kenapa karena tak membawa obat. Akhirnya, aku lawan rasa takut ini dan kembali pulang untuk mengambil obat nenek.

Sekembalinya mengambil obat, aku kembali mengajak nenek untuk berjalan, namun nenekku bilang “Nenek gak kuat lagi, udah nenek disini aja, insyaallah di sini gak akan kena”. Saat itu Patma sadar jika nenek memang tak akan kuat untuk berjalan ke atas. Aku hanya bisa pasrah dan memilih menemani nenek yang duduk di tepi sawah bersama temanku. Hingga malam tiba semakin larut, Alhamdulillah gelombang air tak menerjang lokasi kami. Sambil berkaca-kaca, aku mengaku sangat bersyukur aku, temanku dan nenek masih diberi keselamatan.

Tak ada yang kebetulan di dunia ini, Tuhan selalu punya rencana terbaik untuk hamba-Nya. Rasa syukur yang Patma panjatkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala mempertemukan kami dengan Patma. Tangan-tangan kebaikan yang bersinergi untuk saling membantu, memeluk Patma dan Neneknya dari kejauhan. Bahwa, mereka mengajarkan kami bagaimana hidup adalah perjuangan dan tiada hentinya untuk berprasangka baik kepada Tuhan.

Patma Susilowati, merupakan salah satu penerima beasiswa melalui bantuan ‘Kado untuk Kawa”. Sehari-hari Patma tinggal bersama neneknya yang sudah renta. Kedua orang tuanya telah meninggal beberapa tahun lalu. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Patma dibantu oleh satu kakaknya yang sedang bekerja di luar kota. Patma sangat senang mendapatkan bantuan ini. Ia mengaku, bantuan ini bisa meringankan beban kakaknya, dan bisa memotivasinya untuk belajar lebih giat lagi.