Bikin Haru! Masyarakat Uighur Menerima Kado Sambut Ramadhan di Kamp Pengungsian

Bikin Haru! Masyarakat Uighur Terima Kado Sambut Ramadhan di Kamp Pengungsian

sekolahrelawan.com, Turki- Kebijakan China kepada Suku Uighur membuat mereka benar-benar menderita, fasisme, kekerasan fisik dan pembungkaman terhadap hal keagamaan memaksa mereka harus pergi dari tanah kelahirannya sendiri di Xianjiang Turkistan TImur. Sekolah Relawan menjalin hubungan kemanusiaan bersama mereka melalui program Kado Sambut Ramadhan sebagai bentuk dukungan untuk menyambut bulan yang penuh berkah.

Sebagian dari masyarakat Uighur yang meninggalkan tanah kelahirannya  berkelana menuju Turki melalui perjalanan darat. Kota pertama yang menampung mereka adalah Kayseri, kota tua yang terletak di Turki bagian tengah.


Pada Rabu 01/05/19 sebanyak 30 paket Kado Sambut Ramadhan telah didistribusikan kepada masyarakat  di Kamp Pengungsian Uighur, kamp yang menampung 130 kk dengan jumlah jiwa 800.

Sebagai wujud jalinan aksi kemanusiaan, paket berisi makanan pokok ini disalurkan melalui sinergi antara Sekolah Relawan dan Perhimpunan Pelajar Indonesia Kayseri (PPI).


Dengan total 130 kk pengungsi, masih ada sekitar 100 paket lagi yang akan didistribusikan untuk para penyintas yang telah singgah di Desa Osman Kavuncu Bulvari, tempat berdirinya kamp pengungsian.

Mayoritas dari mereka bekerja sebagai buruh tani,berkebun dan menjalin hubungan kerja dengan masyarakat Turki. Kehidupan ini lebih baik ketimbang saat mereka tinggal di tanah kelahirannya sendiri.

Saat berada di bawah kekuasaan Bendera Merah, kaum lelaki dipaksa untuk masuk ke kamp-kamp rehabilitasi atau pen’china’isasi yang telah disediakan oleh pemerintah China, sedangkan untuk kaum wanita mereka dipaksa untuk menikah dengan orang China, jika mereka menolak mereka bisa disiksa dan bahkan dibunuh.

Buruknya perlakuan Negeri bambu membuat sebagian besar dari mereka sudah pernah merasakan panasnya penjara disana.

"Perempuan Uighur lebih baik mati dari pada menikah sama orang China dan melepaskan Agama Islam" tegas Abdu Selam selaku tetua mereka.

Kepedulian masyarakat indonesia kepada mereka membuat masyarakat uigur yang kami temui merasa sangat senang dan terharu, mereka berterimakasih sedalam dalamnya.

"Meskipun jarak Indonesia sangatlah jauh namun bagi kami masysrakat Indonesia akan selalu dekat di hati kami semua" ujar ketua komunitas uygur yang kami temui.

Dalam sinergi ini ada hal yang membuat dapat kita pelajari dari bangsa uygur ,yaitu sikap gotong royong dan kebersamaan antar mereka sangatlah kuat, meskipun paket yang kita berikan belum mampu untuk mengcover semua kepala keluarga yang ada di kawasan kamp pengungsian tersebut, namun mereka rela berbagi satu sama lainnya.

Meski cobaan yang dialami masyarakat Uighur tak pernah selesai, namun mereka masih memiliki keimanan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala sehingga membuat mereka lebih tegar dan tetap bersemangat menjalani kehidupan.

Dari mereka pun kami juga belajar bahwa perjuangan tertinggi dari semua perjuangan ialah perjuangan untuk mempertahankan Agama dan Iman.




Oleh: Izhar