Konten Berita

Asmat dan Bahasa Indonesia

SRStory, Asmat (3/13)- Kamis sore, setelah hampir dua minggu berselang, akhirnya pertemuan dengan pastor Yan terwujud. Sosok pastor yang rupanya menjadi panutan masyarakat Sakor dan Yaosakor. Pertemuan singkat itu menjadi diskusi menarik tentang masyarakat Asmat dan ‘wejangan-wejangan’ penting dari sang pastor.

Dari perjalanan pastor yang sudah beberapa tahun hidup bersama masyarakat Asmat, komunitas yang kaya budaya ini sangat senang mengamati dan mendengarkan. Maka Sekolah Dasar YPPK yang beliau naungi memang banyak melakukan pembelajaran dengan metoda ‘story-telling’. Maka sebuah pendampingan pun, hendaknya belajar dulu hidup bersama masyarakat, supaya nantinya bisa memodifikasi pola hidup komunitas untuk lebih baik dengan cara yang tepat dan bijak.

Begitupun terhadap modernitas yang dibawa oleh pendatang, seperti penggunaan handphone. Beberapa pemuda Asmat yang sudah memiliki benda elektronik ini, ternyata hanya menggunakannya untuk permainan atau mendengar music, karena memang tidak tersedia jaringan internet di distrik Sirets. Hanya terdapat jaringan telepon dan sms. Lambat laun hal ini membuat sepi kegiatan sanggar seni dan rumah bujang ‘jew’, yang dulunya menjadi pusat kegiatan bagi pemuda dan tokoh adat. Perlu pengarahan yang positif, agar apapun perubahan yang mulai masuk ke komunitas, tidak membuat geger dan lupa akan potensi budaya yang ada.

Sore itupun ditutup dengan keunikan lain yang membuat kekagumanku pada Asmat bertambah.

“Apa yang dimiliki Asmat, tapi tidak dimiliki oleh daerah pelosok lainnya?” begitu pancing pastor Yan.

“Apakah kalian kesulitan berkomunikasi ketika pertama kali datang ke Sirets?” lanjutnya.

“Bahasa Indonesia…” jawabku.

Ya, itulah yang membedakan Asmat dengan daerah pelosok lainnya. Tidak akan ada kesulitan berkomunikasi di sini. Karena semua masyarakat bisa menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik, mulai dari anak kecil sampai generasi tua. Kalaupun ada yang tidak menjawab ketika ditanya atau diajak bicara, lebih disebabkan karena masih malu.

Ketika Asmat bersentuhan dengan dunia pendatang dan penjelajah, para pastor dan pendeta tak hanya membawa misi keagamaan. Pendidikan dan bahasa juga menjadi fokus. Pun dengan tentara-tentara yang bertugas di pedalaman Asmat dulunya, selalu membawa misi pendidikan dan bahasa Indonesia. Maka, tak heran Bahasa Indonesia begitu hidup di tengah masyarakat. Begitu penjelasan Pastor Yan.

Bahasa Indonesia menjadi nyata sebagai bahasa persatuan di Asmat dan tanah Papua lainnya. Ke-bhinneka-an yang sangat kaya dari suku dan bahasa daerah terkadang menjadi pemantik sulitnya menyelasaikan perseteruan antar suku. Seiring terus berkembangnya pendidikan, masyarakat Asmat terbiasa menggunakan Bahasa Indonesia. Sikap nyata untuk mencintai bangsa ini.

(Tika Ariesta/ Relawan Tatar Nusantara Asmat)

  • Bagikan Artikel