Konten Berita

Belajar Menghargai Kematian dari Seekor Anjing

SRStory, Lombok Bangkit (1/10)- Sore itu aku dan Musa sedang berada dalam perjalanan menuju Pos Relawan di Santong. Kami baru saja kembali  dari Senaru, sebuah desa di kaki Gunung Rinjani. Mushola bambu sedang dibangun di Dusun Magling, Desa Senaru, kami pun menengok dan ikut menyemangati teman-teman relawan serta masyarakat yang sedang bergotong royong membangun kembali ruang kehidupan pasca gempa.

Sepanjang perjalanan dari Senaru menuju Santong, Musa membagikan kegelisahannya tentang Indonesia dan gempa Lombok. Bedanya, keresahan tak membuat ia hanya bercuap di status media sosial, atau sekedar mengutuk kebijakan pemerintah dengan sindiran julid di instastory Instagram. Bersama  relawan lainnya, Musa sedang membersamai masyarakat Lombok untuk kembali meniti langkah pasca gempa.

"Gue nggak paham..kenapa ada aja pihak-pihak tertentu yang jadiin bencana sebagai ajang membangun citra atau ajang propaganda kepentingan" Paparnya. Suara Musa terkabur-kabur terbawa angin. Jalanan di kecamatan Bayan memang cenderung sepi, kita bisa memacu kendaraan dengan kecepatan normal 70-100 kilometer perjam, bebas macet.

"Hahahah. Semua orang butuh panggung Mus. Kita bisa banyak belajar disini bahwa sinergi itu penting, Kemanusiaan tuh benderanya cuma satu. Tapi nyatanya emang gak semua pihak bisa terbuka buat bikin sinergi dan jalan bareng-bareng. Yang jelas, aksi kemanusiaan melampaui kibaran bendera dipinggir jalan" balasku.

Saat sedang asyik dalam percakapan sore itu, motor yang kami kendarai melewati  sesosok mayat di pinggir jalan.

"Anjing!" Kataku kaget.

Sesosok Anjing terkapar tak bernyawa di pinggir jalan Desa Akar-akar, ususnya terburai keluar, mulutnya menganga menahan sakit.

"Astagfirullah. Luk, ayok kita kuburin yok!" Ajak Musa. Aku pun otomatis mengiyakan. Musa putar balik ke posisi Anjing terkapar. Sementara aku bengong selama beberapa saat.

Anjing. Anjing. Anjing. Haruskah kamu mati dalam keadaan kayak gini, Njing? Siapa nabrak kamu? Kenapa kami ditinggal kayak gini? Kamu juga berhak mati dalam keadaan terhormat dan layak. Drama banget emang suara hati aku saat itu.

Apa karena kamu dianggap najis sampe orang-orang yang lalu lalang itu gak mau evakuasi mayat kamu, Anjing?

"Parah banget ya Mus. Gak ada yang peka buat nguburin si Anjing..." Ujarku.

Musa hanya menghela nafas dan berkata

"Semoga engke mun urang paeh Aya nu nguburkeun urang nyakkk..." Ungkapnya datar.

Aku kaget. Kenapa bisa ia berpikir sampai kesana? Eh, tapi iya juga sih. Siapa yang tahu kapan kita mati. Yang terdekat bukan jodoh cui. Tapi kematian.

Musa menggali tanah di sebuah kebun kosong di pinggir jalan raya menggunakan ranting kayu. Kalau pake ranting kayu kapan kelarnya? Keluhku dalam hati.  Aku pun segera menyebrang jalan menuju pos penyintas untuk meminjam cangkul.

"Nih Mus pake pacul meh gancang" kataku sambil menyerahkan cangkul.

Musa asyik mencangkul galian tanah kuburan untuk si Anjing sementara aku hanya menonton sambil berpikir. Anjing juga makhluk hidup, dia berhak mati dengan layak.

"Pas urang paeh engke mudah-mudahan Aya nu nguburkeun nyak.." katanya mengulang.

"Aamiiin" aku mengaminkan.

Tak lama setelah itu, seorang warga yang aku pinjam cangkulnya datang menghampiri bersama sang cucu. Ia mengambil alih cangkul yang Musa pegang dan segera menggali lebih dalam.

"Kalo lubangnya gak dalem nanti bau bangke" katanya sambil menggali.

Musa pun segera memunguti sisa kardua dijalan raya dan menggendong mayat Anjing dengan hati-hati. Usus si Anjing sudah terburai sehingga butuh usaha extra untuk mengevakuasinya.

"Yuk taruh sini" kata si bapak. Musa menaruh mayat Anjing dengan hati-hati. Kini jasadnya sudah aman berada di bawah tanah galian yang lebih layak, daripada harus terlindas kendaraan lain dipinggir jalan.

Setelah menguburkan Anjingnya, aku dan Musa segera pamit. Kembali motor dipacu menuju pos. Sepanjang jalan aku berpikir dan mencoba mencerna omongan Musa.

Mudah-mudahan mun urang paeh aya nu nguburkeunnya... kalimat yang sederhana tapi dalam makna. Apa iya bakal ada yang nguburin kita nanti pas kita mati?

Proses penguburan anjing tadi melahirkan makna berharga buatku pribadi, seekor Anjing yang seringkali dianggap haram atau najis tetaplah memiliki hak hidup dan hak mati yang layak. Tak ada dalil yang menghalalkan untuk mencampakan mayat atau jasad hewan yang terlantar, termasuk anjing.

Menghargai kematian dari seekor Anjing yang terkapar dijalan raya. Jika kematian seekor anjing saja harus kita hargai, apalagi kehidupannya? Kadang kita lupa bahwa kita hidup berdampingan dengan alam. Penghuni bumi bukan cuma manusia, tapi juga ada hewan dan tumbuhan. Mereka juga memilih hak-hak yang harus kita hargai dan kita hormati.

Sore itu menjadi sore yang bermakna. Siapa sangka bahwa menggali makna hidup dan mati bisa didapat dari mayat seekor Anjing yang terkapar di jalan raya?


  • Bagikan Artikel