Konten Berita

Cerita Menuju Timur Indonesia

SRStory,Asmat(14/2) - Dampak gizi buruk yang ada di Asmat membuat kita bertanya kembali tentang perhatian pemerintah dan perusahaan-perusahaan besar yang ada di Papua. Tim dari Sekolah Relawan yang diwakili oleh Bayu Gawtama atau yang biasa akrab disapa bang Gaw dan Muhammad Djarony yang biasa dikenal dengan kakak Rony mencoba mendatangi kembali teman-teman yang ada di Asmat untuk meyalurkan bantuan.

Perjalanan yang dilakukan kedua teman kami bukan hanya perjalanan biasa seperti perjalanan selama tiga puluh menit untuk menuju ke sekolah ataupun tempat kerja yang dilakukan setiap hari, kalau kakak Rony bilang perjalanannya seperti naik kora-kora dengan durasi lebih lama. Setelah tiba di Papua dan membeli sinyal WiFi, kakak Rony
mencoba bercerita tentang perjalanannya dari Jakarta. Perjalanannya dimulai melewati jalur udara dengan transit di Makassar dan Jayapura hingga akhirnya tiba di Merauke pukul 7.18 WIT. Setelah melewati jalur udara, tim kami sambil menunggu kapal yang beroperasi pada keesokan harinya memutuskan untuk mengunjungi KM 0 yang berada di Merauke. Saat tiba di ujung timur Indonesia, bang Gaw mencoba bertanya kepada kedua anak SD yang bernama Anton yang sedang duduk di kelas empat dan Petrus yang duduk di kelas satu sekolah dasar. Adapun percakapan yang cukup menarik dari kakak Rony yang menceritakan percakapan antara bang Gaw, Anton dan Petrus.

"Anton kamu kelas berapa? Sudah bisa baca belum?" tanya bang Gaw

"Anton kelas 1 kaka, belum bisa baca baru eja-eja saja." Jawab Anton dengan khas nada orang timur 

"Coba baca itu apa?" bang Gaw sambil menunjuk ke tulisan Merauke-Sabang

"S-A--SA, B-A--BA-NG. Apa bacanya? Papua Nugini?" Dengan polos Anton menanyakan tulisan yang ada di dekatnya

"Itu Merauke-Sabang" bang Gaw mencoba meluruskan apa yang dikatakan oleh Anton

"Itu tulisannya salah, yang benar Merauke-Papua Nugini" Petrus ikut menegaskan tulisan yang sedang dibahas

"Sabang itu adanya di Aceh bukan disini" tambah Petrus untuk meyakinkan tim kami

Dengan percakapan singkat dengan kedua teman baru di Papua dan pendapat mereka tentang tulisan KM 0 seperti yang sudah dijelaskan, tim kami berpikir mungkin karena daerah yang dekat dengan mereka adalah Papua Nugini bukan Sabang. Keesokan harinya tim kami melanjutkan perjalanan melalui jalur laut, dengan menggunakan kapal Sirimau yang beroperasi satu bulan sekali. Dalam perjalanan laut ini, tim kami mengalami kendala karena ombak yang sangat besar, membuat kapal mengikuti arus yang kencang dan waktu yang ditempuh menjadi 39 jam dari waktu normal yang biasa ditempuh selama 36 jam.

  • Bagikan Artikel