Konten Berita

Lamahala Haromoni Ikan dan Nelayan

Biasanya orang Indonesia belum kenyang kalau belum makan nasi. Secara, nasi jadi sumber karbohidrat utama orang Indonesia. Tapi beda dengan Lamahala, Adonara, Flores Timur. Di sini, perut-perut mereka baru akan merasa sudah ‘makan' kalau sudah konsumsi ikan.

“Ikan tidak ada? Biih, tidak bisa makan. Tidak kenyang” begitulah kira-kira pernyataan mereka kalau ikan tidak ada di meja makan. Tidak ada nasi bisa diganti jagung titi. Tidak ada ikan? Tidak ada gantinya.

Tak ayal, Desa Lamahala tepat di pesisir pantai. Dusun 5 dan 6 merupakan dusun spesialis laut. Setiap subuh, ibu-ibu ramai menunggu suami dan anak mereka pulang melaut. Sore hari mengantar mereka pergi.

Dua dusun tersebut juga jadi semacam ‘kota’nya Lamahala karena tidak pernah sepi. Bahkan tengah malam pun ramai dengan ibu-ibu dan bak ikannya. Kalau mau ikan benar-benwr segar, jam beginilah dapatnya. Fresh baru turun dari pukat. Tapi bukan berarti ikan pagi sudah tidak segar lagi.

Ikan di sini selalu segar segar. Ikan kombong biasanya jadi favorit masyarakat. Ikannya besar dan harganya tidak terlalu mahal. Biasanya 2 ekor bisa dapat 15ribu. Tapi kalau sedang bulan terang, 2 ekor 25ribu. Ini karena pada bulan terang ikan jarang naik ke permukaan dan nelayan tidak pergi melaut. Inilah jatah libur para nelayan.

Ikan kombong biasanya dibakar. Beberapa warga rutin membuat ikan bakar setiap jumat. Selebihnya, ikan hanya digoreng, dimakan kuah asam, atau hekkak (sejenis direbus bersama irisan rempah-rempah).

Sebagai salah satu desa penghasil ikan terbesar di flores, Lamahala juga banyak ikan besar. Biasanya ikan-ikan ini dijual untuk keperluan krejha, yakni pesta adat. Harganya berkisar antara 300-500ribu.

Selain kelompok-kelompok nelayan, warga juga sering pergi memancing. Hasil pancingannya juga dijual. Mereka termasuk nelayan pancing. Memancing hanya bermodalkan senar dan kekuatan kulit tangan. Melihat perlengkapan mereka, kukira tadinya mau menerbangkan layang-layang. Ternyata pergi menebar umpan alias mancing di laut.

Pada dasarnya, penghasilan sebagai nelayan itu besar. Menurut warga lamahala, nelayan berpenghasilan paling besar dari profesi lainnya. Namun, nyatanya pendidikan bagi nelayan dan anak-anak nelayan masih belum jadi perhatian. Akhirnya, tingkat kesejahteraan masih rendah.

Anak-anak nelayan pada umumnya tumbuh menjadi anak yang kasar dalam hal tindakan dan juga perkataan. Kata-kata makian tidak jarang keluar dari mulut mereka. Tapi mereka juga tangguh dan berani.

Lantaran sering ditnggal ayah melaut dan ibu berjualan ikan keliling, anak-anak para nelayan harus mengurus diri mereka sendiri. Banyak di antara mereka yang putus sekolah. Atau sering bolos untuk yang sekolah. Ada yang langsung memutuskan melaut saja, ada yang masih suka belajar.

Nelayan pada dasar berpenghasilan besar. Namun tingkat pendidikan terkadang tidak jadi perhatian. Padahal, nelayan adalah pembelajar yang hebat. Mereka langsung diajari oleh alam. Tubuh mereka kekar dan kuat. Meskipun berkembangan zaman menuntut mereka agar lebih cerdas. Mengelola hasil laut agar tidak overfishing, menjaga ekosistem laut, menjaga kebersihan laut agar tetap banyak ikan, sampai mengurusi urusan pribadi terkait izin melaut dan surat kapal pun mereka harus paham.

Alhamdulillah, saat ini pendidikan di kalangan masyarakat nelayan di Desa Lamahala dinilai ada kemajuan. Sudah mulai banyak sarjana-sarjana. Beberapa di antara mereka juga memilih melaut dibanding bekerja kantoran.

Semacam panggilan. Laut dan ikan tidak bisa dipisahkan dari keseharian mereka.

(Fitri Wahyuningsih / Relawan Tatar Nusantara Lamahala)
  • Bagikan Artikel