Konten Berita

Lek Andi Seorang Guru yang Tak Pernah Menggurui

SRStory, Lombok Bangkit (28/9)- "Lek Andi" itu cara kami memanggilnya. Seorang pria berbadan tegap besar dengan rambut gondrong yang terurai. Lek Andi jarang tersenyum lebar, namun semua relawan di Pos Santong tak akan mengingkari sosoknya yang bijak dan hangat. Bersama Lek Andi, bumi berputar dengan santai.

"Lek..." Setiap hari aku tak pernah bosan menyapa ayah beranak dua itu. Lek Andi adalah sosok yang unik dan antik. Kiprahnya di dunia kerelawanan tak akan habis jika dibahas di satu buku, namun kerendahan hati dan sosoknya yang selowww membuat kami tak pernah sungkan menyapa dan berbincang dengan lelaki asal Surabaya ini.

Suatu malam, Lek Andi mencetuskan pertanyaan yang cukup menggelitik dan cukup mengagetkan.

"Neng kene enek kejar paket C opo nggak ya?" (Disini ada tempat kejar paket C nggak ya?) Katanya

"Hmmmm. Nggak tau lek. Emang kenapa?" Tanyaku penasaran.

"Iki lho...anaku si Danu...de'e emoh sekolah. Arep mrene jarene, arep dadi relawan,  tak lebokno paket C ae" (ini loh anakku si Danu, dia nggak mau sekolah. Mau kesini, aku masukin paket C aja)

"Hahahha" kami semua tertawa mendengarnya, masa iya sih Lek tega anaknya dimasukin paket C.

Beberapa hari setelah kejadian tersebut, Danu sang anak benar-benar datang ke Pos Relawan di Santong. Ia memang sudah sering ikut ayahnya terjun langsung melakukan aksi kerelawanan. Tapi, ini adalah aksi bencana pertamanya. Siswa kelas 2 SMK ini sadar bahwa pengalaman dan ilmu jadi relawan di lapangan tak mungkin ia dapatkan di bangku sekolahnya.

Gila...orangtua mana lagi yang bisa sesantai itu membiarkan anaknya bolos sekolah demi ikut terjun jadi relawan di lokasi bencana?

Cara Lek Andi mendidik Danu adalah cara Lek Andi menjerumuskan anak-anaknya ke dunia kerelawanan. Bukan hanya anak, bahkan istrinya pun sudah sering mendampinginya beraksi di jalanan membagikan nasi bungkus bersama GERPIK, Komunitas Kerelawanan yang ia rintis di Surabaya.

"Lek, gimana rasanya jadi Rescuer" Tanyaku mencoba menggali

"Biasa aja...." Jawaban Lek Andi menyakitkan hati. Itulah Lek Andi, tak pernah banyak basa-basi, tapi mampu membuat kami semua kagum dengan aksi dan pribadinya.

"Yaaah Lek...masa biasa ajaa...?" Tanyaku gereget.

"Lha..ya emang biasa aja..." Jawabnya ngotot.

"Terus Lek..kok pengen jadi rescuer ?"  Tanyaku lagi berharap dapat jawaban yang lebih panjang.

"Seneng aja...." Adoooh lek...jawabanmu kok bikin sakit hatiiiiii teruss.

''Aku ngga suka ih disebut Rescuer...Rescue itu  hanya  sebagian kecil  dari aksi kerelawanan. Bicara soal aksi kerelawanan itu cakupannya luas...semua orang bisa jadi relawan sesuai kapasitas yang dimiliki..gak cuma rescue thoook" katanya agak panjang, aku senang.

"Terus..tantangan terberat dilapangan pas rescue tuh apa yahh?"

"Yang berat itu ya.. menyatukan tim. Membangun solidaritas dan menghilangkan ego golongan. Di lapangan itu kita semua satu, satu tujuan..nggak peduli seragamu apa dan kamu dari lembaga apa, semuanya harus kompak, gak boleh ada yang melihara ego golongan atau kelompok..." Lek Andi mulai menyala. Cara ia menjelaskan memang sederhana namun memiliki nyawa.

Lek Andi...di lapangan ia bukan hanya seorang rescuer atau seorang relawan, ia juga seorang guru yang tidak menggurui. Sosoknya begitu sederhana dan rendah hati. Jauh dari arogansi, dekat dengan kerendahan hati.

Saat Lek Andi pulang ke Surabaya, kami menangis melepasnya pergi. Seorang diri ia pulang menyupiri mobil ambulance. Senyum perpisahannya didepan kemudi ambulance menghiasi status whatsApp para relawan.

"Terimakasih Lek...segalanya tentang sosok dan Kiprahmu adalah makna dan pelajaran yang tak habis kami timba.."


  • Bagikan Artikel