Konten Berita

Pak Misin, Tetap Bersinar didalam Kegelapan

SRStory,Depok (22/2)-  Apa yang kamu rasakan jika harus berjalan dalam kegelapan? Tak ada cahaya yang menerangimu berjalan, tak ada seseorang yang menuntutmu memilih pijakan? Hal inilah yang harus dirasakan Pak Misin, seorang lansia tuna netra (58) yang sehari-harinya menjual ubi dan pisang keliling disekitar daerah Tapos, Depok. Wisny Ima Prasetio, perwakilan Tim Sekolah Relawan berkesempatan mendatangi Pak Misin dikediamannya di Kp. Setu RT. 02/08 Cilangkap, Tapos, Depok. Misi Wisny menemui  Pak Misin adalah untuk memberikan sumbangan melalui program "Ketuk Berkah", alih-alih menyalurkan sumbangan, Wisny justru mendapat kesempatan langka dengan bertemu Pak Misin dan keluarganya yang ramah dan terbuka berbagi kisah perjuangan hidupnya. Wisny mengungkap bahwa kisah perjuangan Pak Misin begitu mengunggah nuraninya. 

"saya ditemani oleh seorang tukang ojek pangkalan, Pak Nanda, untuk menemui Pak Misin, lansia tuna netra yang biasanya berjualan pisang dan ubi di sekitar rumah saya. Setelah 15 menit berlalu, sekitar 5 km, menggunakan motor, baru lah kami tiba di rumahnya. Masya Allah…tiap hari berarti Pak Misin jalan kaki sejauh itu untuk berjualan” kata alumnus Universitas Padjajaran ini.

Menurut Wisny, saat ia mendatangi rumah Pak Misin, rumahnya sedang direnovasi berkat bantuan 10 lembar asbes yang diberikan oleh orang baik tak dikenal pada Pak Misin. Kini, sembari menunggu proses renovasi rumah, Pak Misin sekeluarga pun tinggal disebuah kontrakan sederhana. Ia tinggal bersama 6 anggota keluarga yang terdiri dari istri, anak-anak, mantu-mantu dan cucu-cucunya.

Wisny tak menyangka bahwa ternyata, Ibu Juriah, istri Pak Misin, juga merupakan seorang tuna netra. Ibu Juriah berkisah bahwa cipratan minyak panas membuatnya tak lagi bisa melihat. Sementara itu, Pak Misin sendiri pernah mengalami katarak pada tahun 2000, hal itulah yang membuatnya akhirnya kehilangan kemampuan untuk melihat.

Ibu juriah meneteskan air mata saat mengisahkan tentang perjuangan Pak Misin, suaminya. Ia mengaku tidak tega melihat suaminya harus berjualan ubi dan pisang sambil berjalan kaki. Ia khawatir suaminya akan jatuh ke selokan. Tak ada yang mendampingi Pak Misin dalam berjualan, sehingga keterbatasan fungsi matanya membuat ia sering terjatuh atau terluka.

"Udah saya larang untuk jualan, tapi tetap aja kerja. Sedih saya kalau dia jatuh ke selokan" ungkap Bu Juriah pada Wisny sampai menitikan Air mata. Wisny mengaku tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya saat mendengar Bu Juriah berkisah. Istri Pak Misin ini juga mengisahkan bahwa suaminya seringkali pulang ke rumah dengan keadaan lecet karena jatuh ke selokan, bahkan yang paling parah adalah sebuah sepeda motor pernah menyerempet Pak Misin saat sedang berjualan mencari nafkah.

Mendengar istrinya menangis berurai air mata menceritakan kisahnya, Pak Misin hanya tertawa saja. Menurutnya ia sudah ikhlas menjalani kehidupannya saat ini, semua ini ia lakukan untuk tetap bisa bertahan hidup, agar bisa menafkahi dirinya dan istrinya. Pak Misin tidak mau membebani anak-anaknya. Meskipun Pak Misin tidak bisa melihat, tapi ia tak mau kehilangan sinar semangat untuk tetap bekerja keras dan menjalani hidup. 

"Ya habis kalau nggak jualan nanti nggak pegang uang, mau beli apa-apa susah" kisah Pak Misin pada Wisny. Wisny mengaku  tetap setia mendengarkan kisah Pak Misin meskipun ia harus menahan air mata karena tidak tega.

"Padahal pendapatan Pak Misin setiap kali ia berjualan sekitar Rp100.000 – Rp150.000. Itu pun tidak setiap hari ia berjualan, tergantung barangnya. Belum lagi ketika hujan, dagangannya jarang sekali yang laku. Akhirnya kadang ia bagikan pada orang-orang. Belum lagi, dari uang tersebut juga selalu ia sisihkan untuk naik ojek ketika pulang. Ya, Pak Nanda lah tukang ojeknya. Ia sama sekali tidak mengandalkan pendapatan anak dan cucunya yang tiggal bersama dengannya. Anaknya sudah berusia sekitar 40 tahunan dan hanya bekerja sebagai serabutan" Tambah Wisny mengisahkan cerita hidup Pak Misin

Wisny merasa bahwa pertemuannya bersama Pak Misin dan keluarga sangat memberi inspirasi dan motivasi. Kegelapan tak merenggut cahaya dan sinar semangat dalam hidup Pak Misin. 

"Satu hal yang saya ambil dari kisah Pak Misin; bahagia ketika kita bisa hidup sederhana dan berbagi hal kecil yang bemsnfaat untuk sesama" Pungkas Wisny menutup kisahnya bersama Pak Misin.

Pak Misin saja masih mampu besinar ditengah kegelapan yang melanda, bagaimana dengan kita? masihkah kita terpuruk dan membawa kegelapan untuk diri kita sendiri? sudahkan kita bersyukur dan menjadi cahaya untuk diri sendiri? sudahkah cahay dalam diri kita bersinar menerangi orang-orang disekitar?

 

 

  • Bagikan Artikel