Kampung Dug Dug Bukan Sekedar Kampung di Albusyro

Kampung Dug Dug Bukan Sekedar Kampung di Albusyro

sekolahrelawan.com- Ramadan tiba..ramadan tiba..ramadhan tiba... tiba-tiba ramadan, meriahnya letusan petasan, gebu-gebu iklan sirop dan tabuan bedug menjelang buka. Dug..Dug...Dug! eh kali ini bukan sembarang dug-dug loh, gimana kalo orang sekampung yang ikut dug-dugin bulan ramadan? bisaaa laahh namanya kampung dug dug. Sebuah program dari sekolah relawan untuk menyediakan santapan berbuka puasa bagi kampung yang berhak menerimanya.

Dihari yang kadang mendung kadang panas, pada 10 Mei lalu, segerombol relawan mengunjungi kampung Albusyro RW 02/RT 03, Katulampa, Bogor. Membawa alat perang berupa segenap perkakas dapur, lengkap dengan mobil yang terisi penuh dengan tentara kebaikan, kami tiba di pesisir hulu sungai Ciliwung.

Turun dari kendaraan dengan posisi badan tegap, dengan sergap menuju pos masing-masing. Tentu membuat bingung warga disana, hampir saja kami diamankan oleh Kamtibnas, tapi tenang kami bukan mau berperang, kami juga bukan mau merusuh, tapi kami punya misi kemanusiaan untuk buka puasa bersama warga Kampung Albusyro.

Keadaan tegang berubah menjadi gelak tawa dan senyuman utuh dari hati yang suci, memang ada-ada saja kalau relawan mau beraksi hahaha.

Tak butuh waktu lama, kami semua segera menyiapkan apa-apa saja yang dibutuhkan untuk berbuka puasa nanti sore. Menjelang sholat Jumat, sebagian relawan perempuan bersama ibu Robi'ah selaku bu RT, konvoi menggunakan dua sepeda motor menuju pasar Bogor. Empat perempuan tangguh ini berkeliling pasar melengkapi bahan-bahan makanan, sayur dan buah dipilih sebagai menu alternatif agar serat pada tubuh tetap terpenuhi. Ayam, tempe, dan lauk-pauk lainnya juga sudah diborong.

"Kalo kemarin mah, subuh kita udah belanja. Cuman ama relawan, yang belanjanya mendadak ginih hahah" tutur ibu Bi'ah sambil tertawa

Tepat setelah Jumatan berakhir, perempuan tangguh tadi sudah kerepotan membawa banyak belanjaan di tanganya. Alih-alih dapat pertolongan, malah dapat ledekan oleh relawan lain

"Untung kita cowo, jadi sholat Jum'at gak usah panas-panasan ke pasar hahaha" ledek salah satu relawan

Hal yang biasa, memasuki bumbu canda tawa dalam setiap tugas kami, namun agar suasana kembali kondusif segeralah proses masak memasak dimulai. Ada yang memotong tempe, sayur dan cabe, para pemuda memotong buah-buahan, dan ibu Bi'ah memasang ayam. Kepala koki dipegang oleh bu RT.

Dalam program kampung dug dug ini kami tidak hanya menyajikan makanan matang saja, tapi dari proses awal hingga tersajinya makanan seluruh warga di kampung yang kami datangi bersinergi dan bahu membahu.


Langit kelabu, mengundang mendung menggelayut manja. Ketika menu KDD dipersiapkan di bawah terpal, hujan tak mau menahan ego. Hujan turun membawa aroma tanah memaksa warga yang sudah kumpul pun bubar. Setengah jam, akhirnya hujan berhenti meneteskan sejuknya. Meja dan menu kembali dipersiapkan, anak-anak pun bermunculan, lengkap dengan baju koko bersiap sholat maghrib. Padahal lampu penerangan masih bermasalah, namun sepertinya aroma kebersamaan membuat para ibu dan anak perempuan pun tidak sabar untuk menyendok dan menikmati menu KDD. 

Selesai maghrib, para bapak dan jejaka pun bermunculan. Ayam goreng, tempe, sayur asam, mie golosor, es buah disikat habis.

Hujan dan masalah penerangan bukan sebuah penghalang untuk sebuah kebersamaan. Sebuah ungkapan syukur atas empati dan kebaikan yang dibagi oleh orang-orang baik Indonesia.

"Hatur nuhun" tak henti terucap dari ibu-ibu, bapak, abah, ummi dan anak-anak.

"Jangan kapok yaaa" pesan ibu Bi'ah ketika relawan pamit pulang.

Sebuah kebersamaan, sinergi dan keberkahan ramadan terbentuk dan terasa di balutan suasana mendung kampung Albusyro


Oleh: Musa