Konten Berita

Bebaskan Mereka dari Jerat Hutang, Langkah Awal Pendampingan Ala Sekolah Relawan

SRUpdate, Ramadhan Senyumin Langit, Depok (3/10)- Bu Yanti (41) tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, hari itu ia bisa bernafas dengan bebas, senyum diwajahnya terus mengembang, baru saja ia meraih kemerdekaannya setelah selama ini hidup terjerat hutang pada rentenir. Janda asal Desa Cibinong Gunung Sindur Kabupaten Bogor ini sebelumnya harus mengalami berbagai intimidasi dan pelecehan dari beberapa rentenir yang menagih cicilan hutang.

Musa (24) dan Wanti (19) yang merupakan Tim Sedekah Lawan Rentenir dari Sekolah Relawan berhasil menemuinya dan membantu Bu Yanti untuk bisa bebas dari jerat hutang. Bu Yanti sendiri merupakan janda yang memiliki dua orang anak, anak pertamanya sudah menikah sedangkan anak keduanya bekerja alakadarnya, kini ia hanya membuka warung kecil-kecilan untuk menopang kehidupannya. Meminjam uang pada rentenir terpaksa ia lakukan sebagai langkah awal memulai usahanya. Namun, perempuan asal Bogor ini tak menyangka jika itu adalah awal dari neraka kehidupan yang ia alami.

“Saya dipegang-pegang dan dilecehkan. Bahkan sempat diajak tidur bersama biar hutang saya bisa anggap lunas” Keluhnya pada Sekolah Relawan. Setiap hari adalah hari-hari yang mencekam, mengalami kekerasan dan pelecehan adalah hal yang seringkali tak bisa terhindarkan.

Bu Yanti adalah salah satu potret srikandi keluarga Indonesia yang terjerumus pada jurang hutang bank keliling, akibat tak tahu lagi harus berbuat apa, ia pun memilih jalan pintas, rentenir. Hutangnya mencapai Rp. 9.000.000 setiap hari bunganya bertambah, tersebar pada 8 bank keliling yang berbeda. Melihat realita demikian, kita tidak bisa serta merta menyalahkan atau menghakimi gaya hidup Bu Yanti, hal ini justru seharusnya kita pikirkan bersama sebagai langkah membuat solusi.

Berdasar data yang Sekolah Relawan temukan di lapangan, beberapa single parents atau ibu tunggal yang terjebak hutang pada rentenir diakibatkan karena kurangnya keterampilan dan skill untuk merintis usaha, ketiadaan modal juga adalah penyebab yang saling berkaitan, minimnya pendampingan dan pemberdayaan serta terbatasnya akses pinjaman modal yang sehat membuat mereka kian terjerat, mereka yang hidup menjanda notabene harus menghidupi keluarga, namun tanpa adanya skill dan pendampingan usaha maka yang terjadi adalah kasus serupa, ketika mengalami tekanan hidup yang terlanjur berat dan kebutuhan yang mengikat, tak ada alternatif  selain meminjam uang pada rentenir atau yang terburuk adalah berbuat kriminal.

Berbekal semangat untuk membebaskan dan memberdayakan para srikandi keluarga merdeka dari hutang, maka Sekolah Relawan pun menginisasi program pendampingan usaha dan pembebasan hutang bagi mereka yang terjerat rentenir, Sedekah Lawan Rentenir namanya.

Ramadhan kali ini, Sedekah Lawan Rentenir sudah menemui beberapa calon penerima manfaat yang memiliki kasus serupa. Sudah ada 4 penerima manfaat yang berhasil dibebaskan dari hutangnya. Namun, usaha Sekolah Relawan tidak berhenti sampai disitu saja, selain berupaya membebaskan mereka dari hutang, Sekolah Relawan pun berupaya untuk memberikan pendampingan usaha dan edukasi agar tak terulang lagi kejadian serupa, meminjam uang pada rentenir.

Program Naik Pangkat, adalah keberlanjutan dari program Sedekah Lawan Rentenir, ketika seseorang sudah berhasil bebas dari Rentenir dan bebas dari hutang, maka ia harus didampingi untuk bisa hidup mandiri dan berdikari tanpa bergantung lagi pada rentenir. Pemberdayaan dan pendampingan pengembangan usaha kecil adalah salah satu jalan yang dirintis.

Pasca bebas dari hutangnya, Bu Yanti sadar bahwa ia masih harus berjuang. Berjuang untuk kemandiran hidup agar tak lagi jatuh ke lubang yang sama. Didampingi oleh relawan, Bu Yanti pun menuliskan sebuah  komitmen  tertulis yang menyatakan bahwa ia akan bersungguh untuk mengindari dan meninggalkan kebiasaan berhutang pada rentenir.


“Saya berjanji tidak akan lagi meninjam uang pada rentenir yang memberatkan hidup saya” Tulisnya dalam surat yang ia buat

Bu yanti berharap, apa yang terjadi padanya bisa menjadi hikmah dan pelajaran bagi  dirinya dan masyarakat luas, bahwasanya meminjam uang pada rentenir tidak akan memberikan solusi, tetapi membawa masalah yang penuh dengan kontroversi.

"ini hari paling bahagia saya... Saya merasa bahagia sekali bingung mau ngomong apa... Allhamdulillaah... " Katanya bersyukur. Episode ini bukanlah akhir perjuangan bu Yanti. Ia masih harus tetap kembali berjalan ke depan untuk merintis kemandirian hidup. Ia menguatkan tekad keras ingin mengembangkan usaha dagangnya.  Kini Bu Yanti tampak percaya diri menapaki episode baru di hidupnya.

Bu Yanti hanyalah satu dari sekian banyak srikandi keluarga yang sudah terbantu, Sekolah Relawan berkomitmen untuk menjangkau lebih banyak penerima manfaat yang bisa dibebaskan dari hutang dan didampingi untuk berdaya. Ramadhan kali ini, sudah ada empat penerima manfaat program Sedekah Lawan Rentenir yang dibebaskan dari hutang-hutangnya, nilai penebusan hutang keseluruhan mencapai Rp. 27.000.000, namun ini bukan soal seberapa besar nominal hutangnya, tapi soal langkah pendampingan pasca pelunasan hutang tersebut, tantangan kebaikan yang harus tetap diikhtiarkan.

 

  • Bagikan Artikel