Konten Berita

Literasi dan Dialektika, Senjata Awal Memahami Realitas

SROpini, Depok (4/16)- Memahami realitas, sebuah modal penting yang harus dimiliki seorang relawan sebagai titik tolak langkah awal pergerakan atau dasar untuk terwujudnya  aksi kebaikan.  Hal ini juga tergambar dalam salah satu sesi sharing Orientasi Relawan yang dilaksanakan pada sabtu (16/4), di Graha Sekolah Relawan. Sesi Sharing tersebut mengharuskan para peserta menggambarkan imajinasinya tentang sosok seorang relawan. Dari sekian banyak gambar yang ada, terselip satu gambar yang cukup sederhana namun menggugah rasa ingin tahu peserta lainnya.    

Gambar tersebut merupakan hasil imajinasi  salah satu peserta bernama Rohman yang baru pertama kalinya mengikuti Orientasi Relawan dari Sekolah Relawan, ioa menggambarkan sesosok manusia dengan tulisan "realitas" disampingnya. Kepada forum, ia menjelaskan apa maksud gambarnya tersebut.  

“Seorang relawan harus punyai pemahaman realitas yang baik, tanpa itu kita akan kebingungan dalam bertindak. Pemahaman realitas yang baik akan permasalahan sosial dapat menuntun kepada metode penyelesaian masalah sosial tersebut” Ungkapnya menjelaskan.

Peserta lainnya memberikan tanggapan dan ekspresi yang beragam, ada yang mengamini, namun ada juga mengernyitkan dahi seolah kebingungan dan menyimpan sejuta pertanyaan untuk didiskusikan.

Bicara soal realitas, Rohman membagikan gagasan Karl Marx soal “Materialisme Dialektika” yang menurutnya merupakan  langkah awal untuk membaca dan memahami realitas. Hal ini juga berguna sebagai instrument untuk menetukan langkah aksi atau cara untuk mengubah realitas. Rohman menambahkan bahwa, Materialisme dilektika merupakan bentuk keresahan Marx sebagai respon atas terjadinya pertentangan dan ketimpangan sosial yang disebabkan oleh sistem ekonomi kapitalis .

Sistem ekonomi kapitalis sendiri cenderung menguntungkan para pemilik modal dan alat produksi dari sebuah korporasi. Para buruh pekerja dari korporasi tersebut diperas dan ditindas dengan sistem kerja yang ada, upah yang diberikan pun tidak seimbang, keadaan diperburuk dengan minimya unsur demokrasi dan ruang artikulasi yang diberikan pada para pekerja.

Seusai sesi sharing gambar berakhir, diskusi berlanjut dengan pembahasan isu-isu sentral global yang acuannya merujuk kepada program pembangunan PBB bernama Sustainable Development Goal’s (SDG’s). Dalam sesi ini, Rohman kembali memberikan pendapatnya menyoal  fokus isu-isu yang jadi acuan dunia kerelawanan dalam bingkai program PBB.

“Program SDG’s tersebut terasa agak rancu dan terkesan paradoks tatkala melihat realitas bahwa program dengan slogan pembangunannya itu  tidak menyentuh akar permasalahan, seperti tetap merajalelanya sistem kapitalisme global ditengah proses pembangunan dunia. Bisa jadi, program SDG’s ini merupakan skema dalam melestarikan sistem kapitalisme” Papar Rohman dalam opini tertulisnya.

Berpikir kritis terutama dalam membaca realitas ditengah dinamika sosial yang terjadi dimasyarakat tentu sangatlah penting dan harus dilakukan. Bagaimana mungkin kita bisa bergerak tanpa memahami realitas yang ada? Apa kita hanya akan menjadi generasi followers yang cuma ikut-ikutan dan membiarkan diri terbawa arus tanpa memiliki pemahaman dan prinsip ideal yang mandiri?

“Sudah sepatutnya, kepekaan pemahaman realitas kawan-kawan relawan harus lebih dipertajam”, Ungkap Rohman.

Lantas bagaimanakah cara untuk melatih kepekaan?

Pemuda yang mengaku tergerak dan peduli untuk melakukan sebuah aksi kerelawanan harus menempa diri dengan budaya membaca dan berdialektika. Hal tersebut sangat dibutuhkan untuk menyeimbangkan skill  dan keterampilan dimasyarakat. Sejalan dengan konsepsi tentang “Relawan harus peka terhadap sesama”, kepekaan tentu tidak bisa lahir begitu saja, selain intensitas kebersamaan bersama masyarakat secara langsung, kepekaan juga bisa dilatih dari kebiasaan berliterasi dan berdialektika.

Seorang relawan tidak hanya diharuskan menjadi seseorang mampu bergerak dan menginspirasi dengan aksi-aksi monumental atau insidental semata, tapi juga harus  mampu membaca dan memahami realitas demi menginsiasi kegiatan-kegiatan positif yang berkelanjutan sebagai modal untuk merintis solusi yang tepat untuk menanggulangi masalah hingga ke akarnya.

Sudah bukan rahasia umum lagi jika para pemuda penggerak bangsa yang berjuang mewujudkan kemerdekaan adalah para pembaca ulung yang menjadikan buku dan budaya literasi sebagai makanan sehari-hari dan sahabat yang menemani perjuangannya. Melalui kebiasaan membaca dan kemampuan berliterasi, mereka tidak hanya mampu berpikir kritis, tapi juga mampu mengaplikasikan ilmu dan mengartikulasikan diri sebagai generasi yang merintis pembangunan negeri.

Mohammad Hatta, Ir. Soekarno, Moh. Natsir, Tan Malaka, Soe Hok Gie, Kartini, Rohana Kudus, Sutan Sjahrir, Agus Salim, Buya Hamka, Rahmah El Yusnah, K.H Abdurahman Wahid dan deretan tokoh-tokoh pergerakan nasional lainnya adalah mereka yang hidup dekat dan bersahabat dengan buku. Mereka bukan hanya pahlawan tapi juga relawan yang sudah sejak dulu mendedikasikan diri untuk perkembangan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Berangkat dari hal tersebut, sudah seharusnya budaya diskusi dan literasi dihidupkan dan ditumbuhkan ditengah aktivitas kerelawanan. Jadi, sudahkah kita memahami diri dan situasi sekitar?

 

 

  • Bagikan Artikel