Konten Berita

Menciptakan Kebahagiaan Sederhana di Tengah Bencana

Sore itu pos pengungsian Desa Santong, Kecamatan Kayangan diramaikan oleh suara tawa anak-anak. Mereka tak berhenti tertawa saat Daeng Hudaya mengajaknya melingkar dan bermain di lapangan. 

Gempa berkekuatan 7 SR baru saja meruntuhkan rumah dan merenggut nyawa sanak keluarga mereka, namun hal itu tak membuat mereka kehilangan senyum di wajahnya.  Siapa sangka bahwa dibalik wajah-wajah ceria itu mereka telah melewati sebuah peristiwa yang luar biasa. Saat kita seusia mereka, sebagian besar dari kita mungkin tak tahu apa itu bencana, apa itu kehilangan, apa itu ujian, dan apa itu pengungsian.


Pos penyintas Desa Santong jadi saksi betapa kebahagiaan masih bisa dinyalakan meski dengan berbalut kesederhanaan. Mereka tak hanya bernyanyi bersama, tapi juga belajar mengenal satu sama lain. Kehadiran para relawan berhasil memberikan mereka kebahagiaan kecil di tengah pengungsian. 

Tim SDR Sekolah Relawan mengajak anak-anak untuk bermain dan berkumpul sebagai salah satu cara untuk memulihkan kondisi mental mereka yang sempat trauma karena gempa yang melanda Lombok Utara.

Selain dahsyatnya bencana gempa, anak-anak juga harus belajar beradaptasi dengan kondisi baru di pos penyintas, segala keterbatasan kini menjadi kawan mereka. Tidur hanya beralaskan tikar dan terpal, makan seadanya, tak ada mainan dan tak bisa belajar ke sekolah seperti biasanya.


Namun, semua itu sama sekali tak membuat anak-anak korban gempa kehilangan cahaya untuk bahagia meski lewat cara-cara sederhana.

Anak-anak korban gempa adalah penerus bangsa ini, jangan biarkan mereka tumbuh dewasa sambil membawa trauma dalam jiwa, bebaskan mereka dari rasa takut yang mendera, bencana memang menjadi kisah pilu yang tak dapat dihapuskan, namun di sisi lain bisa menjadi modal pengalaman bagi proses pendewasaan.

Bersama Sekolah Relawan, mari kita bersinergi merangkul anak-anak korban gempa, kita jaga agar senyuman tetap bisa terukir di wajah mereka. Anak-anak korban gempa harus tetap bangkit dan berdaya. Jangan biarkan trauma bencana merenggut kebahagiaan mereka.

  • Bagikan Artikel