Konten Berita

Srikandi Lombok Bangkit Gerakan Roda Ekonomi

SRUpdate, Kabar Bencana, Lombok Utara (9/9)-Bencana Gempa memang telah meluluh lantahkan Lombok. Bangunan runtuh, korban jiwa jatuh hingga aktivitas lumpuh. Tapi bencana tak membuat masyarakat Lombok dan para relawan kehilangan daya juang dan ruh untuk bertaruh. 

Masyarakat mulai kembali ke kebun-kebun mereka, kembali merintis upaya untuk merdeka lewat pemanfaatan sumber daya alamnya yang kaya. Memunguti cengkeh, memunguti butir-butir harapan baru yang lebih baik untuk hari esok. 

Para Srikandi Lombok mencoba menguatkan hati, menegakan badan, mengasah tekad untuk kembali berjuang melanjutkan hidup. Kaki-kaki yang sempat lemah itu memulai kembali perjalanan mulia, memijak tanah dengan penuh ikhtiar dan doa. Kebun dan pasar adalah beberapa tempat yang menjadi saksi bangkitnya Srikandi Lombok pasca gempa melanda.

"Kami harus cari cengkeh lagi. Kalau nggak begini nanti nggak dapat uang. Cari cengkeh sama-sama, biar tidak terus teringat gempa" Ungkap Nur salah seorang warga yang di temui Sekolah Relawan saat sedang memunguti cengkeh di kebun. 

Tak hanya kebun, pasar juga mulai ramai, masyarakat kembali menggelar dagangan dan menghamparkan harapan, hidup harus dilanjutkan. Meski pasar mereka telah rubuh, meski kios mereka tak lagi utuh, tapi upaya untuk kembali bangkit harus terus dikayuh.

"Kalau saya gak jualan lagi nanti bagaimana hidup kami? Kami harus makan. Anak-anak saya ada banyak. Kami harus mandiri, tak mungkin mengharap bantuan terus-menerus" Ibu Juminah sang pedagang ayam potong  paham betul bahwa bencana tal boleh membuatnya lemah dan kalah. Ia malah harus bangkit semakin kuat, kembali meniti roda ekonomi. Minggu ketiga pasca gempa, ia bersama pedagang lainnya kembali ke pasar untuk menggerakan roda ekonomi.

Selain Bu Juminah, bu Imran juga mengungkapkan hal yang sama. Ia tak boleh berpangku tangan, kembali menggerakan ikhtiar pasca gempa adalah keharusan. Penjual buah ini berupaya berdamai dengan rasa takut dan kembali berjualan.

"Saya harus jualan. Biarpun masih trauma. Soalnya kalo kita nggak jualan kita nggak bisa lanjutkan hidup. Kita harus usaha. Harus bangkit lagi" ungkapnya saat di wawancarai Sekolah Relawan di Pasar Santong . 

Ratusan kios di Pasar Santong runtuh akibat gempa, para pedagang kehilangan lapak mencari nafkah, namun hal tersebut tak menjadikan mereka kehilangan arah. Berjualan menggunakan alas terpal pun menjadi pilihan. Selain lebih aman, hal ini juga membuat mereka perlahan bangkit kembali pasca gempa melanda. 

Lombok harus bangkit, tak boleh terus tenggelam dalam rasa sakit. Lombok harus berdiri tegap, tak boleh tersungkur dalam gelap.

Roda ekonomi masyarakat mulai bergerak. Bencana menjadikan mereka semakin kuat. Meski status darurat bencana telah dicabut pemerintah, namun upaya untuk membersamai masyarakat tetap tak boleh berhenti begitu saja. 

Lombok masih butuh kita. Sekolah Relawan akan berupaya membersamai dan mendampingi masyarakat dalam proses recovery. Bukan untuk menyuapi, tapi untuk mengawal masyarakat untuk semakin mandiri. Kekuatan sejati untuk bangkit berdiri ada didalam diri mereka sendiri.

 Lombok di masa depan tercipta dari semangat, upaya, doa, darah,keringat dan air mata masyarakat dan para relawan yang bersama merintis kembali kebangkitan pasca keruntuhan. 

Semangat Lombok! Lombok Bangkit!

  • Bagikan Artikel