Ketuk Berkah, Cara Sederhana Membuat Semesta Sumringah

Ketuk Berkah, Cara Sederhana Membuat Semesta Sumringah

SRStory, Ketuk Berkah (1/22)-  Apa hal-hal baik yang udah kita cetak selama awal 2019 ini? Bisa dihitung nggak sih berapa banyak orang yang berhasil kita buat tersenyum? Atau malah kepikiran banget buat liat ke belakang, sudah berapa banya luka yang kita toreh di dada sahabat, kerabat, orangtua bahkan rekan kerja?

Mengawali awal tahun, langkah baik kita harus dijaga semakin konsisten dan seirama, awal tahun ini udah saatnya kita merubah wacana jadi aksi nyata, merubah niat mulia jadi gerak yang membahagiakan sesama.

Bersama program Ketuk Berkah, Sekolah Relawan kembali mengawali awal tahu dengan langkah-langkah kebaikan, salah satu langkah baik sederhana yang tak pernah gagal mencipta senyuman semesta adalah ketuk Berkah. Sebuah program berbagi sekotak paket sembako untuk saudara-saudara kita.

Tok-tok-tok! Tim Relawan Ketuk Berkah tak hanya membawa sekotak hadiah persaudaraan untuk mereka, sambil berdebar-debar mengetuk pintu sang empunya rumah, para relawan juga membawa berkotak-kotak cinta di dalam hatinya, berharap kehadirannya dan sekotak keberkahan di tangan mampu mewujudkan kebahagiaan untuk keluarga dhuafa.

Malam itu Ibu Lulu Masnun (37 tahun) dan Bapak Sartono (47 tahun) sedang berada di rumah kontrakan berukura 3mx4m saat Tim Relawan Ketuk Berkah datang, bersama ke-4 anaknya yang masih kecil-kecil, mereka tinggal bersama dalam kesederhanaan.

Ibu Lulu dan Pak Masnun adalah pemulung botol plastik dan pencari ikan teri. Mereka biasanya akan memulung bersama anak-anaknya saat malam hari, lalu pada siang harinya anak-anak diajak untuk berjuang memilah ikan teri dengan upah Rp. 3000/Kg.

Hari itu, kedatangan Ketuk Berkah ke rumah mereka seakan menjadi jawaban atas doa dan keresahan keluarga ini, sudah beberapa hari ini mereka tidak memulung dan hanya memilah teri saja, alhasil penghasilan mereka pun semakin berkurang untuk memenuhi kebutuhan,

“Sudah beberapa hari tidak bisa memulung, jadi hanya cari ikan teri saja. Alhamdulillah ada rejeki lain yang Allah berikan untuk keluarga kami” Ungkap Pak Masnun seraya diiringi rasa syukur.

Bayangkan saja, dalam satu hari keluarga ini rata-rata hanya mampu memilai 3 kilogram ikan teri, jika di kalilkan berarti mereka bisa meraup upah 30.000 ribu saja dalam sehari, padahal ada 6 orang nyawa yang harus makan setiap harinya.

Apa yang biasa kita lakukan dengan 30.000 kawan-kawan? Membeli segelas kopi di coffeshop pun masih kurang, membeli sepiring makanan di café  atau restaurant pun hanya cukup untuk satu orang kan?

Yuk mulai ciptakan saku-saku kebaikan kita sendiri, sisihkan  investasi sebesar rasa syukur agar semakin banyak keluarga-keluarga prasejahtera yang bisa tersentuh dengan rasa cinta dan rasa persaudaraan kita.

Tak hanya keluarga Pak Masnun, masih ada banyak ribuan bahkan jutaan keluarga Indonesia yang berada dalam kondisi “belum merdeka”. Bersama Sekolah Relawan, yuk kolaborasi menciptakan kemerdekaan sederhana untuk sesama!