Literasi Tanpa Aksi Itu Basa-Basi

Literasi Tanpa Aksi Itu Basa-Basi

Kemajuan teknologi tidak dapat dipungkiri mengubah tatanan dunia. Informasi dapat diakses melalui internet dengan cepat dan mudah sehingga hal tersebut berdampak signifikan bagi kehidupan masyarakat. Dengan adanya teknologi, memberi dampak yang negatif ataupun positif bagi generasi milenial kini. Kurangnya minat membaca pemuda karena terlalu berlebihan menggunakan media sosial untuk mengonsumsi informasi yang tidak bermanfaat telah banyak kita temui di lingkungan sekitar. Namun tiidak sedikit pemuda yang menggunakan teknologi untuk mengajak pemuda lainnya melakukan hal positif demi keselamatan minat literasi generasi penerus bangsa.

Istilah Literasi khususnya di Indonesia dimulai pada tahun 2014. Menurut CEO Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia, Trini Haryanti, Literasi adalah keberaksaraan, yaitu kemampuan menulis dan membaca, budaya literasi dimaksudkan untuk melakukan kebiasaan berpikir dan diikuti oleh sebuah proses membaca dan menulis yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam sebuah proses kegiatan tersebut akan menciptakan karya.

Aksi literasi tidak hanya melulu soal membaca dan membaca saja. Budaya membaca perlu proses untuk bisa diterapkan secara nyata hingga mampu menciptakan sebuah karya yang bermanfaat bagi sesama. Namun, hal tersebut dapat diupayakan dari aksi sederhana, seperti membantu masyarakat yang membutuhkan tambahan koleksi bacaan secara gratis atau menjadi relawan baik dibidang pendidikan dan kemanusiaan.

Salah satu aksi literasi yang pernah dilakukan oleh sastrawan Indonenesia asal Makassar, Aan Mansyur, adalah membentuk Komunitas Kata Kerja dan pada 2004 mendirikan Kafe Baca Biblioholic. Aan Mansyur kembali menjadi buah bibir karena berperan sebagai penulis puisi dalam film Ada Apa dengan Cinta (AADC).

Meski aksi literasi sudah cukup banyak disuarakan zaman ini, minat baca tulis tetap belum bisa dikatakan sempurna. Tak serta merta menyurutkan rasa optimis bagi pegiat literasi yang menunjukkan aksi di dunia literasi. Menurut Bayu Gawtama, Founder Sekolah Relawan, “Literasi tanpa aksi hanyalah basa-basi. Kebanyakan aksi tanpa membaca bisa bablas, tanpa rambu, tidak ada standar untuk evaluasi. Membaca melulu tanpa aksi hanya akan menajdi pintar teori tapi melempem diaksi”. Akhirnya, mari mengubah paradigma bahwa membaca hanyalah untuk mereka yang lari dari kesepian dunia nyata.