Menelisik Potret Kurban di Uganda: 3 Kambing untuk 300 Muslim Buwabuyi

Menelisik Potret Kurban di Uganda: 3 Kambing untuk 300 Muslim Buwabuyi

sekolahrelawan.com- Pada kurban tahun ini, Desa Buwabuyi Distrik Sironko yang dihuni oleh kurang lebih 300 populasi muslim Afrika menjadi salah satu daerah tujuan distribusi kurban dari Sekolah Relawan, kami percaya bahwa kebaikan tak terbatas oleh jarak, perbedaan benua bukan alasan untuk tak saling peduli sesama.

Penduduk Buwabuyi mayoritas bertahan hidup dengan cara bercocok tanam, meskipun begitu kekeringan yang sering melanda membuat mereka seringkali menderita kelaparan. Menurut Mudiya Ibrahim relawan lokal, ada puluhan janda yang harus bertahan hidup menghidupi anak-anaknya di Buwabuyi, selain bercocok tanam, mereka juga mendapat bantuan hewan ternak untuk dibudidayakan.

“Daging adalah salah satu makanan mewah yang sangat jarang dinikmati, bahkan mungkin tidak pernah. Momen kurban adalah salah satu kesempatan bagi mereka untuk bisa menikati kambing, itupun tidak menjamin setiap tahunnya ada kurban disini (Buwabuyi)” Ungkap Mudiya kepada Sekolah Relawan melalui pesan singkat WhatsApp.

Hal itu lah yang menjadikan inisiasi penyaluran kurban ke Buwabuyi diikhtiarkan, akhirnya pada idul kurban kali ini, 3 ekor kambing “diterbangkan” dari Indonesia untuk Uganda.

Tunggu sebentar, hanya 3 ekor saja? Iya, saat ini baru 3 ekor kambing yang bisa diterbangkan hingga Buwabuyi. Tapi bagaimanapun juga 3 ekor kambing tersebut pasti sangat berharga dan bermakna bagi mereka disana. Bisa dibayangkan saat di beberapa daerah daging kurban melimpah, justru di banyak tempat daging kurban bahkan bisa “diperebutkan” dan tidak terdistribusi dengan rata. 3 ekor kambing untuk 300 muslim di Buwabuyi?  Iya, semoga 3 ekor kambing itu bisa jadi pembuka berkah bagi nikmat lainnya.

“Orang-orang Buwabuyi sangat bahagia dan antusias saat diberitahu bahwa ada kurban yang disalurkan dari  Sekolah Relawan, Indonesia. Karena jujur saja mereka jarang sekali menikmati daging, saat diberitahu bahwa ada kambing akan disembelih mereka berbondong-bondong datang untuk bisa mendapatkan daging. Sayangnya, hanya ada 3 kambing yang bisa disembelih, sesungguhnya kami berharap bisa ada lebih dari itu meskipun kami tahu itu.” Ungkap Mudiya Ibrahim saat menceritakan prosesi kurban di Buwabuyi


“Banyak sekali kebahagiaan yang tercipta dan doa yang tercurah untuk saudara-saudara di Indonesia yang telah menjadikan Idul Adha tahun ini terasa begitu spesial dan istimewa, jujur saya hanya bantuan dari sini (Sekolah Relawan) yang kami dapatkan, belum ada dari yang lain”  Tambahnya kepada Sekolah Relawan.

Apa yang Mudiya kisahkan tentu sedikit menampar kita, memang tak hanya di Afrika, bahkan di Indonesia saja banyak sekali mereka yang jarang menikmati daging. Ketika setiap harinya kita mampu menikmati daging atau bahkan memilih tidak memakan daging, beberapa dari saudara kita justru harus bekerja kerjas dan memutar otak “bagaimana caranya untuk makan nasi?” atau “kapan bisa punya uang buat beli daging?”

Kemerdekaan untuk makan dan memperoleh pangan yang bergizi ternyata belum bisa jadi kemerdekaan kita bersama, buktinya masih ada yang “kelaparan” dan tidak mendapatkan kualitas dari gizi makanan yang dimakan.

Makanan sehat dan bergizi tentu adalah hak semua orang, namun masalahnya tidak semua orang mampu memenuhi kebutuhannya karena berbagai keterbatasan. Akankah kita hanya diam dan menyaksikan di sosial media atau TV? Masihkah kita bisa santai menikmati makanan lezat yang bisa dengan mudahnya dipesan dengan sekali klik saja?

Sekolah Relawan tak pernah lelah mengajak sahabat untuk melingkar bersama dalam lingkaran kebaikan, yuk kita perkuat sinergi untuk sedekah pangan. Tak ada kebaikan kecil yang sia-sia, keberkahan pasti hadir bahkan dari sebutir nasi saja.

3 ekor kambing untuk Buwabuyi adalah keberkahan pembuka kebaikan-kebaikan lainnya yang inshaAllah akan berlipat ganda.


Oleh: Adinda Ahlul